It’s me

Saat mentari memanggang kepala, tanah kering kerontang dan mahluk hidup tercekik oleh kepengapan yang makin menggila, aku berjalan mencari makna kehidupan,

Bagai debu, yang muncul dari kekeringan yang mencekik tetumbuhan dan dibenci mahluk hidup, aku melayang-layang dalam kesepian di tengah lalu lalang ramainya jalanan. Terbakar panas dan diseret angin, aku terombang-ambing dalam kenyataan yang saat menyakitkan. Aku diacuhkan orang, dan tak ada seseorangpun yang mempedulikan keberadaanku. Bagi mereka aku adalah sampah yang akan menyumbat jalur nafas dan mencekik paru-paru mereka. Mereka menginjak-injak diriku, meludahi dan menumpahkan sumpah serapah saat aku ada di samping mereka.

Tapi sebutir debu ini akan memerangi nasibnya, sebutir debu ini tak akan menyerah begitu saja pada takdir, jika perlu, dia akan melawan sang penguasa demi eksistensinya di dunia. Ya, demi eksistensi yang mungkin dipandang sebelah mata, bahkan tidak dipandang sama sekali oleh orang. Kalaupun dia akan kalah, dia tidak akan kalah begitu saja. Seperti yang dikatakan Jenderal Kuribayashi Tadamichi, pemimpin Balatentara Kekaisaran Jepang di Iwojima saat pulau itu diserbu pasukan Sekutu “kami tahu kami akan kalah, tapi setiap jengkal tanah yang akan direbut akan kami pertahankan dengan darah dan nyawa kami, dan Sekutu akan membayar mahal setiap jengkal tanah yang mereka rebut,….sangat mahal”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s