Sapi Gyanendra Bikin Pusing Pemerintahan Baru Nepal

Diambil dari Okezone.com pada hari Rabu, 18 Juni 2008 – 11:41 wib

NEPAL – Pemerintahan baru Nepal masih punya banyak pekerjaan untuk diselesaikan. Setelah berhasil “mengusir” Raja Gyanendra dari Istana Narayanhiti, kini mereka dipusingkan untuk segera memindahkan sapi-sapi milik raja terguling itu dari istana.

Setidaknya ada 60 sapi milik Gyanendra yang berkeliaran di halaman Istana Narayanhiti, yang sejak tiga hari lalu telah dijadikan museum. Gyanendra memanfaatkan sapi-sapi itu untuk diambil susunya.

“Kami tak bisa membiarkan mereka di sana dan sampai sekarang belum ada keputusan apa yang harus dilakukan terhadap mereka. Mungkin, Departemen Peternakan di bawah Kementerian Pertanian akan menggunakan sapi-sapi itu untuk riset,” ungkap Govinda Prasad Kusum, birokrat senior yang bertugas menyiapkan inventaris isi istana. (sindo//ahm)

Sebuah Tanggapan:

Sebuah negeri mengalami perubahan sistem pemerintahan, dari sebuah monarki yang absolut, dimana adagium “sabda pandita ratu” yang berarti titah (sabda) penguasa harus terjadi karena dia adalah pemimpin sekuler (ratu) sekaligus pemimpin agama (pandita), menjadi sebuah republik, dimana semua orang tak peduli apakah dia kalangan jelata maupun bangsawan bisa berbicara bebas untuk menentukan arah negara, telah terjadi. Kerajaan Nepal yang didirikan oleh Prithvi Narayan Shah pada tanggal 21 Desember 1768 kini berubah bentuk menjadi Republik Nepal setelah lebih dari satu dekade mengalami pergolakan antara kaum Royalis dan Maois.

Peristiwa ini mengingatkan saya kepada salah satu peristiwa yang saya anggap menjadi milestone dalam sejarah dunia, Revolusi Perancis. Peristiwa yang dipicu oleh ketidakbecusan Raja Louis XIV dalam memimpin Kerajaan Perancis sehingga menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat yang berupa kelaparan, beban utang negara, beban pajak dan lainnya. Revolusi yang juga diinspirasikan oleh Revolusi Amerika ini tercipta sebuah Republik baru yang melandaskan dirinya pada Deklarasi Universal Hak Manusia dan Warganegara, salah satu landasan pelaksanaan Hak Asasi Manusia hingga hari ini. Namun, setelah revolusi terjadi, republik dan konstitusi didirikan, parlemen terbentuk, muncul gerakan-gerakan teror yang disponsori oleh penguasa saat ini. Gerakan ini saya pahami sebagai gerakan Republik Ketiga Perancis untuk mencari bentuk idealnya, walaupun ribuan orang, termasuk Raja Louis XIV dan Permaisuri Marie-Antoinette terpisah kepala dari tubuhnya dibawah pisau guillotine.

Nah, mari kita lihat, apakah pergerakan Republik Nepal yang baru ini akankah juga seperti halnya Republik Ketiga Perancis yang mengorbankan anak-anaknya. Prakiraan awal, pergerakan ini akan berlangsung damai, mengingat ketidakstabilan di wilayah ini tidak akan memberikan keuntungan bagi siapapun, baik rakyat, pemerintah Nepal maupun bagi negara-negara di sekitarnya. Selain itu, saat ini pihak-pihak yang selama ini bertikai di Nepal telah membentuk Parlemen untuk menentukan arah baru negara tersebut. Justru keadaan ini yang tampaknya akan menjadi model penyelesaian pertikaian sipil di negara-negara lain. Wa’allahu alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s