South Korea says ‘NO’ to US Beef

S Korean leader in beef apology

South Korean President Lee Myung-bak has apologised to his country for a beef deal with the US that sparked weeks of street protests.

In a televised address, Mr Lee said he had backed the deal to help secure passage of a bilateral free trade deal, thus boosting South Korea’s economy.

But he said he was sorry for ignoring public concern over health risks.

The protesters say Mr Lee’s decision to resume US beef imports fails to protect them from BSE, or mad cow disease.

South Korea used to be a major market for US beef but suspended most imports in 2003 after a case of BSE was detected there.

Mr Lee agreed in April to resume most imports, but an envoy for the president is currently holding talks in the US in a bid to modify the deal.

Story from BBC NEWS:
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/asia-pacific/7462776.stm
Published: 2008/06/19 05:45:24 GMT
© BBC MMVIII

Tanggapan atas berita di atas:

Beberapa hari terakhir ini, Korea Selatan mengalami ketidakstabilan politik yang disebabkan oleh protes dan tuntutan rakyat Korsel agar Presiden Lee Myung-bak segera mundur. Tuntutan tersebut dipicu karena kebijakan pemerintah di bawah Presiden Lee yang membuka pasar Korsel bagi daging sapi dari Amerika Serikat. Rakyat Korsel khawatir dengan dibukanya keran impor daging sapi dari AS akan menimbulkan kemungkinan masuknya penyakit sapi gila.

Satu hal yang menarik dari fenomena ini adalah militansi rakyat Korsel. Menurut pengalaman pribadi saya ketika mendampingi delegasi dari partai sayap kiri Jepang dan Korsel, mereka terlihat membela apa yang mereka percayai, bahkan ketika mereka diserang, mereka akan membela dan mencari legitimasi atas hal-hal tersebut.

Militansi rakyat Korsel pada isu impor daging tersebut juga dipicu oleh keterikatan tradisional masyarakat Korsel dengan pertanian. Mereka masih terikat dengan kepercayaan bahwa nenek moyang mereka adalah petani dan secara tradisional, gaya hidup sehari-hari masyarakat merupakan gaya hidup petani. Dalam sebuah berita di Kompas tanggal 20 Juni 2008 diceritakan bahwa saat pemerintah Korsel melakukan liberalisasi pasar beras, rakyat Korsel melakukan protes besar-besaran dan dipuncaki dengan peristiwa dimana 2 orang petani Korsel melakukan bunuh diri.

Menurut berita tanggal 20 Juni 2008 itu pula, Presiden Lee mengumumkan bahwa dirinya akan memecat paling tidak 3 menteri yang bertanggungjawab atas pembukaan keran impor daging sapi asal AS tersebut. Dalam siaran persnya, Presiden Lee menyatakan bahwa dia menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada rakyat karena telah membahayakan kesehatan rakyat dan mengancam kehidupan pertanian dan peternakan di negara tersebut.

Keberpihakan ini yang patut diamati dan diterapkan di Republik ini. Selama ini pertanian menjadi anak tiri di negeri ini, padahal Indonesia masih merupakan negara agraris. Apabila diibaratkan sepak bola, implementasi kebijakan industrialisasi di Indonesia mengingatkan saya pada tim nasional PSSI Garuda tahun 1980-an. Timnas waktu itu memang memiliki skill dan daya juang yang luar biasa di mata saya. Saat berhadapan dengan tim Korsel, kesebelasan Merah Putih mengurung pertahanan Korsel dan saat ini bertubi-tubi mengancam gawang Korsel. Tapi sayangnya kebijakan tersebut terlalu asyik menyerang dan melupakan pertahanan utama – pertanian – sehingga saat “serangan balik” datang tiba-tiba, kita jadi kerepotan dan kebobolan.

Apabila boleh menyumbang saran terhadap isu pertanian, mengingat perkembangan industri di negeri ini diibaratkan seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak hendak maka industri yang dikembangkan, akan lebih baik merupakan industri yang mendukung kehidupan agraris di Indonesia. Selain itu, perlu pula disiapkan tenaga-tenaga menengah yang terampil, terutama di bidang pengolahan hasil pertanian, mengingat selama ini isu phytosanitary dan kualitas hasil pasca panen menjadi kendala bagi produk-produk pertanian Indonesia. Saya teringat pada saat KKN dulu, dimana para petani di desa tempat saya KKN tidak memiliki keterampilan lebih untuk mengolah dan menangani hasil panen, sehingga mereka hanya sekedar menjual hasil panen tanpa diolah lebih lanjut dan tidak mendatangkan nilai tambah bagi mereka.

Dalam pandangan saya, hal ini akan tercapai apabila kita seluruh rakyat Indonesia juga mendukung pertanian Indonesia. Apabila boleh mengutip iklan Ketua HKTI, Prabowo Subiyanto, “konsumsilah hasil pertanian Indonesia….” Wallahu’alam.

2 responses to “South Korea says ‘NO’ to US Beef

  1. Pingback: Pertanian Korea Selatan | annisa mardiana·

  2. Pingback: Pemanfaatan Hukum Internasional Sebagai Instrumen Politik | annisa mardiana·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s