Rezim

Ketika rezim berganti, maka pergantian sistem akan menjadi sebuah keniscayaan. Jika perubahan tersebut mengarah ke perbaikan, maka rezim yang bersangkutan pasti akan memperoleh dukungan yang kuat, tapi apabila perubahan tersebut mengarah kepada keburukan atau sesuatu yang dipersepsikan banyak orang sebagai sesuatu yang buruk, maka perlawanan akan muncul menjadi satu keniscayaan juga. Dalam perbincangan di meja kopi Braga City Walk kemarin, kami bertukar pandangan mengenai perubahan rezim yang sebentar lagi dirasakan akan terjadi. Rezim yang saat ini bertakhta dikhawatirkan tidak lagi memperoleh dukungan karena rezim tersebut memutuskan sesuatu di luar harapan banyak orang di akhir masa jabatannya. Kenaikan harga BBM yang setelah digoogling merupakan hal yang inevitabel telah menggoyang dan memperburuk citra rezim saat ini. Kami lalu bernostalgia dengan rezim-rezim yang telah silih berganti bertakhta di Republik ini.

Lalu dalam perjalanan di kereta tadi aku teringat dengan nasib para penguasa yang pernah ada di tanah Jawa ini. Seingatku ada dua wangsa yang bertakhta di atas tanah Jawa ini. Wangsa yang pertama adalah wangsa Sanjaya. Wangsa ini bertakhta sejak Kerajaan Hindu pertama di Jawa yang bernama Tarumanegara berjaya di sekitar abad VI Masehi. Penerus wangsa Sanjaya benar-benar hancur pada tahun 1222 ketika wadyabala Singasari yang dipimpin Ken Arok menghancurkan tentara Sri Kertajasa Jayawardana di Logender, Kediri. Konon, sisa-sisa wangsa ini bertakhta di Tatar Pajajaran, hingga hancurnya Majapahit. Wangsa kedua yang lahir adalah Wangsa Isyana yang didirikan oleh Ken Arok setelah dia menduduki kekuasaan di Singasari. Dari Ken Aroklah, yang dikatakan lahir dari rahim seorang gadis desa, Ken Umang yang dibuahi sendiri oleh Dewa Surya (wow…dewa kok ya bisa birahi ya…) para penguasa Tanah Jawa ini diturunkan hingga hari ini.

Jadi tidak salah apabila para penguasa di tanah Jawa ini mencari legitimasi sebagai penerus Ken Arok, sang pendiri Wangsa Isyana tersebut. Konon, presiden-presiden di Republik ini mencoba untuk menghubung-hubungkan dirinya dengan keluarga kraton di Jogja dan Solo. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh legitimasi sebagai penguasa tanah Jawa dan segala perintahnya menjadi Sabda Panditha Ratu, perkataan sang Raja Diraja, pengatur alam dan agama, Sayidin Panatagama, Khalifatullah di muka bumi Jawa ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s