Kebahagiaan Itu…(幸せとは…)

Pada tanggal 5 Mei 2009, Yahoo travel mempromosikan negara-negara “bahagia” di dunia ini. Kebanyakan negara tersebut ada di Benua Eropa (Denmark, Finlandia dan [verekt!!!] Belanda) sementara negara non Eropa lainnya adalah Selandia Baru dan Kanada (yang penduduk mayoritasnya keturunan Eropa).

Menurut the Organization for Economic Cooperation and Development, sang empunya riset, kebahagiaan penduduk di negara-negara tersebut dikarenakan stabilitas ekonomi sehingga memicu ketersediaan barang dan jasa yang diperlukan oleh masyarakat baik dalam level primer, sekunder, tersier bahkan kuadruer (istilahnya bener gak nih??).

Memang ukuran kebahagiaan seseorang tidak mudah ditentukan, tidak bisa dijabarkan menjadi semacam kumpulan angka statis maupun setumpuk dokumen in-depth interview. Sang empu riset di atas juga menyadari hal itu. Maka mereka menggunakan kuesioner yang mengukur enam bentuk perasaan negatif maupun positif. Dan munculah negara-negara di atas sebagai negara penduduknya mayoritas berbahagia.

Petani dan kerbau pembajak tanah

Petani dan kerbau pembajak tanah

Lalu, apakah negara-negara seperti Indonesia memiliki penduduk yang tidak bahagia (sebagai bentuk negasi dari bahagia, ketimbang kata “menderita”)? Apakah periset itu pernah menanyakan para petani di pedalaman Jawa yang menembang sambil meluku sawahnya, atau para nelayan yang menjaring ikan sambil bersenda gurau di tengah ganasnya Samudera Hindia “apakah engkau merasa bahagia? apakah engkau memiliki perasaan positif?”.

Nelayan tradisional pemburu paus di Lamalera, NTT

Nelayan tradisional pemburu paus di Lamalera, NTT

Bagi kita –yang selalu dicekoki iklan parpol belakangan ini yang mengekspose betapa sengsaranya rakyat di bawah “kaki” rezim yang berkuasa– melihat bahwa rakyat Indonesia sengsara, nelangsa dan ditelantarkan para pemimpinnya, sementara mereka harus tetap memenuhi kewajiban mereka sebagai rakyat jika tidak mau masuk penjara.

Tapi mungkin…mungkin para petani yang selalu bermain kucing-kucingan dengan hama wereng, atau para nelayan yang selalu berlomba dengan trawl macan itu dalam beberapa tingkatan merasa bahagia hidup di Indonesia.

Aku jadi teringat fragmen novel Romo Mangun “Burung-burung Manyar”. Saat Kapten KNIL Setadewa alias Teto dicegat oleh seorang Letnan KL Belanda totok dan berdebat tentang tanah air. Si Letnan KL Belanda totok itu berkata,” Kapten, bagiku tanah air bukan sekedar tempat kita lahir, tapi tempat dimana kita bisa diterima oleh lingkungan sekitar kita, dimana kita mencintai dan dicintai….” (Keterpesonaanku pada novel besutan pastur paroki kecil di Muntilan ini insyaallah aku ceritakan di lain waktu).

Dari fragmen itu aku menyadari, mungkin definisi kebahagiaan bukan terletak semata pada kepuasan yang ditimbulkan karena terpenuhinya kebutuhan jasmani kita, namun juga perasaan bahwa kita diterima, dicintai dan mencintai lingkungan kita (cieee….cinta…cinta…cinta….). Memang aku sendiri merasakan betapa tidak nyamannya hidup di kota besar, mentereng, maju dan metropolistis, tapi tiap saat kita ditatap orang dengan tatapan yang “menolak”…

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata…

One response to “Kebahagiaan Itu…(幸せとは…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s