Burung Manyar

Cover Depan Novel "Burung-burung Manyar" karya Romo Mangun

Cover Depan Novel "Burung-burung Manyar" karya Romo Mangun

Masih ingat tulisan saya tentang kebahagiaan dan tanah air beberapa waktu lalu? Dalam tulisan itu saya mengutip satu fragmen kecil sebuah roman novel karya Romo Mangunwijaya “Burung-burung Manyar”. Rupanya Tuhan menghendaki ucapan insyaallah saya untuk terjadi. Maka dalam tulisan ini saya ingin berbagi keterpesonaan saya terhadap roman tersebut.

Roman tersebut saya baca pertama kali saat saya SMP saat saya sering mengunjungi perpustakaan (karena tidak diberi uang saku, maka saya lebih sering ke perpus daripada ke kantin). Berikut saya sajikan sinopsis roman tersebut:

Setadewa dan Larasati berkawan karib sejak kecil. Setadewa lahir sebagai anak Kolong, anak serdadu yang tinggal di tangsi. Ayahnya, Brajabasuki, adalah seorang kapten pada KNIL, tentara Hindia Belanda. Ibunya bernama Marice, seorang perempuan keturunan.

Kapten Brajabasuki hilang tak berjejak ketika kependudukan Jepang. Kemudian Marice menjadi gundik Jepang, meski ia tak menginginkannya. Ia dipaksa keadaan: kalau ia tak mau menjadi gundik, suaminya, ayah Teto, akan mati.

Setelah dewasa, Teto memilih menjadi tentara Belanda. Ia menemui Mayoor Verbruggen dengan membawa serta surat ibunya. Ternyata Mayoor Verbruggen adalah mantan kekasih ibunya. Alasan Teto memilih menjadi tentara Nica adalah kesumat kepada Jepang yang telah memaksa maminya menjadi gundik. Ia juga berpikir orang-orang yang menentang Belanda adalah pengkhianat—termasuk orang-orang Republik.

Sementara itu, Atik adalah gadis nasionalis yang sangat membenci Belanda. Bahkan, ia bekerja sebagai relawan administrasi di lembaga milik pemerintah Indonesia. Meski begitu, Teto tetap mencintai Atik dan menghormati keluarga Antana.

Setelah Belanda kalah, Teto hengkang dari Indonesia, Mayoor Verbruggen sendiri dikisahkan tewas di Dien Bien Phu –benteng terakhir kolonialis Perancis di Viernam– saat dia keluar dari KNIL dan bergabung dengan Legionnaire (Legiun Asing Perancis). Teto kemudian menjadi ahli komputer dan memperoleh kedudukan sebagai manajer produksi Pasific Oil Wells Company setelah ia berhasil mengawini salah satu anak Direktur perusahaan tersebut. Suatu saat, Setadewa kembali ke Indonesia dan tanpa direncanakan ia menghadiri ujian disertasi Atik. Pada acara tersebut, dia tidak menemui Atik. Justru Atik dan suaminya, Janakatamsi, yang mengunjungi Teto di tempat ia menginap. Atik mengajak Teto ke rumahnya untuk bertemu dengan Bu Antana, yang kemudian meminta agar Teto bersedia menjadi kakak bagi Atik.

Suatu kecelakaan merenggut nyawa Atik dan Janakatamsi, suaminya, ketika mereka hendak berangkat beribadah haji. Jadilah ketiga anak mereka yatim piatu. Kemudian Setadewa menganggap ketiga anak Atik dan Jana sebagai anak­anaknya sendiri. Ia pun tak menikah lagi. Baginya, cukup Bu Antana yang menjadi ibu sekaligus nenek bagi ketiga anak itu.

Saya mencoba mengingat bahan-bahan kuliah Kritik Sastra yang saya ikuti sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu. Dalam kuliah itu, dosen saya, pak Rachmad Djoko Pradopo mengajak kami untuk mendefinisikan “nilai lebih” dari sebuah karya sastra. Bagaimana sebuah karya dianggap indah? Kata pak RDP,” karya sastra itu dianggap indah bila dia mampu menggerakkan perasaan seseorang, baik perasaan yang positif (gembira, bersemangat dll) maupun yang negatif (sedih, marah dll) dan menimbulkan simpati maupun empati pada sidang penikmat sastra…”

Magelang

Foto-foto Gementee Magelang Tempoe Doeloe

Lalu saya menerapkan teori itu pada keterpesonaan saya. Satu hal yang sangat membuat saya terpesona adalah kisah Teto sebagai anak kolong di kota kelahiran saya, Magelang. Romo Mangun dengan lincahnya menceritakan detil Magelang di zaman Belanda dengan indahnya, yang membuat khayalan saya melayang ke zaman tersebut. Memang saat saya membaca roman tersebut untuk pertama kali, wajah kota Magelang saat itu tidak jauh berbeda dengan “wajah” Magelang dalam roman tersebut. Rumah tinggal Teto di Kesatrian hampir tak berubah, Kali Manggis masih mengalirkan air coklat Van Houtennya, alun-alun yang romantis dengan deretan pohon beringin, sekolahan Holland Chinezen School yang dekat rumah sayapun belum berubah wajahnya. Pokoknya saat saya membaca roman itu, saya membayangkan diri saya sebagai Teto kecil yang menikmati segala kekolongannya di Magelang.

Mungkin unsur proksimitas yang dimiliki roman tersebut dengan latar belakang sayalah yang membuat saya benar-benar terpesona dengan kisah ini. Oleh karena itu, bagi temen-temen yang berasal dari Magelang, roman ini saya rekomendasikan untuk dibaca…rekomendasi ini juga saya ajukan kepada teman-teman yang lain untuk menghayati perjalanan sejarah bangsa ini.

Tabik….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s