Titian Rambut Dibelah Tujuh: Antara Plagiarisme dan Kreatifitas Chairil Anwar…

Beberapa hari terakhir ini heboh tersiar kabar di media massa Indonesia kasus penjiplakan yang dilakukan oleh seorang guru besar di bidang ilmu hubungan internasional salah satu universitas swasta nasional terkemuka. Konon, sang profesor tersebut membuat beberapa tulisan yang dimuat di salah satu media cetak berbahasa Inggris di Jakarta dengan cara menjiplak mentah-mentah beberapa karya tulis atau karya akademik yang termuat di berbagai jurnal internasional. Sebuah email mampir ke inbox saya yang menggambarkan betapa tulisan pak profesor tersebut hanya sekedar “copy-paste” dari tulisan ahli lain dalam sebuah jurnal. Entah mana yang lebih dulu menulis materi tersebut – sang profesor atau jurnal-, wallahu ‘alam bissawab.

Plagiarisme dalam dunia akademik memang bukanlah hal yang sepele. Kondite, nama baik, bonafiditas atau apapun yang dipakai untuk menilai seseorang menjadi “akademisi” akan hilang saat orang tersebut terbukti melakukan tindak penjiplakan atas karya akademik orang lain. “Plagiarisme menciderai jiwa sportifitas akademisi untuk mencari kebenaran ilmiah”, demikian seloroh seorang teman saya yang mengembara ke ujung dunia sana untuk mengejar gelar Ph.D-nya. Lalu apa salah apabila seorang akademisi menggunakan pengalaman empiris akademisi lain untuk berkarya? Tidak salah memang, tapi ada kaidah yang harus dituruti ketika seorang akademisi mengutip hasil karya akademik orang lain.

Untung saja, saya bukan akademisi, jadi materi-materi yang bisa dikategorikan penjiplakan dalam blog saya insyaallah tidak akan memerosokkan nama baik saya sebagai seorang akademisi, karena saya bukan akademisi. Sebuah silogisme yang cukup menarik, bukan?

Nah bicara tentang plagiarisme, saya tiba-tiba teringat oleh salah satu pujangga pujaan saya -Si Binatang Jalang- Chairil Anwar. Beliau lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949. Dalam jangka waktu kehidupannya yang 27 tahun dan 7 tahun masa berkarya tersebut, beliau menghasilkan sekitar 94 karya, yang dikategorikan oleh HB Jassin sebagai karya saduran (4 sajak), karya terjemahan (10 sajak, 4 prosa), dan karya asli (70 sajak, 6 prosa).

kiri: Chairil Anwar; kanan: Archibald MacLeish; background: tulisan tangan puisi Yang Terhempas dan Yang Putus

Salah satu karya puisi Chairil Anwar yang dituduh merupakan hasil plagiat adalah puisi berjudul “Karawang-Bekasi” yang ditulis pada tahun 1948. Banyak pihak menuduh puisi tersebut merupakan jiplakan puisi seorang pujangga Amerika Serikat yang bernama Archibald MacLeish yang kebetulan pernah menjabat Kepala Perpustakaan Kongres Amerika Serikat dari tahun 1939 – 1944 berjudul “The Young Dead Soldiers Do Not Speak” yang ditulis sekitar tahun 1941.

Bagi beberapa orang, fenomena tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah tindak plagiat, tapi bagi saya sendiri, saya terpesona oleh olah kata dan diksi puisi Krawang Bekasi sehingga puisi tersebut menjadi “pribadi” lain daripada puisi MacLeish. Kreatifitas Chairil Anwar dalam membungkus puisi tersebut terlihat indah. Ibarat sesama kue apem, Chairil Anwar dengan indahnya menambahkan keju, gula halus, cinnamon dan bumbu yang pas dengan selera penikmat sastra dalam puisi Karawang -Bekasi. Berikut saya sajikan tabel perbandingan kedua puisi tersebut. Bait-bait yang saya anggap mirip, saya letakkan berdampingan dalam satu lajur.

KARAWANG-BEKASI THE YOUNG DEAD SOLDIERS DO NOT SPEAK
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, Nevertheless they are heard in the still houses: who has not heard them?
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts.
Kami mati muda.Yang tinggal tulang diliputi debu.Kenang, kenanglah kami. They say, We were young. We have died. Remember us.
Kami sudah coba apa yang kami bisa They say, We have done what we could but until it is finished it is not done.
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa They say, We have given our lives but until it is finished no one can know what our lives gave.
Kami cuma tulang-tulang berserakanTapi adalah kepunyaanmuKaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan They say, Our deaths are not ours: they are yours: they will mean what you make them.
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa,Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkataKaulah sekarang yang berkata They say, Whether our lives and our deaths were for peace and a new hope or for nothing we cannot say: it is you who must say this.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat Berikan kami artiBerjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian They say, We leave you our deaths: give them their meaning: give them an end to the war and a true peace: give them a victory that ends the war and a peace afterwards: give them their meaning.
Kenang, kenanglah kamiyang tinggal tulang-tulang diliputi debu We were young, they say. We have died. Remember us.
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Chairil Anwar (1948) Archibald MacLeish c. 1941.

Dari tabel perbandingan tersebut terlihat betapa lincahnya Chairil Anwar mengalirkan kata-kata. Bagi saya dia tidak menerjemahkan, dia memberi makna baru dan memberi “rasa” baru dalam puisi Karawang – Bekasi. Teknik parafrase dan repetisi yang digunakan Chairil Anwar sangat genuine. Siapa yang akan membayangkan hubungan antara isi puisi MacLeish dengan pertempuran hebat antara tentara NICA dan laskar pejuang Republik di wilayah antara Bekasi hingga Kerawang?

Saya sendiri tidak bisa mengatakan bahwa karya ini menjiplak, bisa jadi puisi MacLeish menginspirasi Chairil Anwar, namun demikian, Chairil Anwar mampu mengejawantahkan keadaan tahun-tahun pahit revolusi Indonesia tersebut ke dalam puisi Karawang – Bekasi.

Memang dalam fenomena ini, plagiarisme dan kreatifitas berhalang oleh tabir tipis bagai rambut dibelah tujuh. Oleh karena itu, saya serahkan kepada sidang pembaca sekalian: apakah puisi Chairil Anwar tersebut merupakan bentuk plagiarisme atau kreatifitas…

One response to “Titian Rambut Dibelah Tujuh: Antara Plagiarisme dan Kreatifitas Chairil Anwar…

  1. Menurut saya sih bukan jiplakan tapi saduran. Sebuah karya adaptasi yang bagus. Khairil tidak menjadi hina dan rendah karena karya ini. Dia tetap merupakan penyair yang berdaya pikir dan berdaya cipta hebat. Saya selalu mengagumi Khairil yang di usia muda sudah mampu mencapai prestasi intelektual yg sangat tinggi. Di atas segalanya, saya sangat menyukai kepiawaiannya menggunakan Bahasa Indonesia, membuktikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang setara dengan bahasa-bahasa dunia yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s