Rekonstruksi Jepang…Quo Vadis?

Pada tanggal 28 Juni 2011 saya ditugaskan untuk mengikuti briefing di MoFA mengenai laporan Reconstruction Design Council, salah satu satgas yang dibentuk PM Kan pada tanggal 11 April 2011. Briefing disajikan langsung oleh Prof. Iokibe Makoto, ketua RDC. Dalam briefing tersebut Prof. Iokibe memberikan highlight sebagai berikut:

  1. RDC beranggotakan unsur akademisi, tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah.Dewan ini bertugas untuk memberikan usulan kepada kabinet mengenai pembangunankembali wilayah yang terkena bencana Gempa dan Tsunami Tohoku 2011.
  2. Anggota dewan ini mendiskusikan berbagai usulan rekonstruksi dengan memperhatikan keadaan masyarakat baik di wilayah gempa maupun di Jepang secara umum dan diharapkan proposal yang dihasilkan merupakan kebijakan yang bersifat rasional, efektif, jelas dan masuk akal;
  3. Konsep rekonstruksi yang diajukan adalah konsep disaster reduction. Konsep ini disusun dengan mempertimbangkan metode-metode baru intik mengurangi dampak bencana dan mencegah banyaknya korban. Selain itu konsep ini juga menekankan pembangunan infrastruktur yang menunjang pengurangan dampak bencana seperti pembangunan sea-wall di daerah rawan tsunami; pembangunan designated evacuation area yang lebih aman serta pemanfaatan sistem penginderaan untuk deteksi dini dan mitigasi bencana.
  4. Selain itu, rekonstruksi juga diarahkan pada upaya revival industri yang ada di daerah bencana, terutama industri perikanan dan pertanian, mengingat perikanan dan pertanian merupakan salah satu bidang ekonomi yang penting di daerah Tohoku.
  5. Dewan juga mempertimbangkan dampak bencana kerusakan PLTN Fukushima Daiichi sehingga ke depan daerah-daerah yang terkena dampak radioaktif PLTN Fukushima tetap bisa dikembangkan.
Prof. Makoto Iokibe

Profesor Iokibe, Ketua RDC (sumber: the wall street journal)

Alex Kerr dalam bukunya Dogs and Demons: The Fall of Modern Japan (2002) menggambarkan sebuah kisah yang menarik: konon salah satu Kaisar negeri Tiongkok bertanya pada salah satu pelukis istana,” wahai pelukis istana, objek apakah yang sangat mudah digambar dan sebaliknya objek apakah yang sangat sulit digambar?”. Sang pelukis terpekur sejenak dan menjawab,” Yang Mulia, objek yang sangat mudah digambar adalah setan, sedang objek yang sangat sulit digambar adalah anjing”. Kaisarpun bertanya,” Mengapa begitu?”; “Yang Mulia, setan mudah digambar, karena dalam realita setan adalah sesuatu yang absurd, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk apapun sepanjang gambaran kita absurd dan kita yakini bahwa itu setan, sedangkan anjing dalam realitas adalah sesuatu yang berwujud, sehingga apabila kita menggambarkan seekor anjing, kita harus menggambarkannya secara detail, membedakan moncong, badan dan ekornya dengan binatang lain.”

Dalam kehidupan masyarakat Jepang, Alex Kerr menghipotesiskan bahwa Jepang modern terjebak dalam kisah anjing dan setan ini, tatanan masyarakat Jepang terlalu mengedepankan hal-hal yang absurd – dalam hal ini setan – ketimbang hal-hal yang realistis dan masuk akal dalam menaklukan alam mereka. Kerr mengambil contoh tindakan pemerintah Jepang membuat dam dan berbagai macam infrastruktur di kawasan daerah aliran sungai, muara, rawa dan pantai dengan cara menimbun dan membuat ancangan dari beton. Mereka membangun fasilitas-fasilitas umum yang besar dan spektakuler di daerah-daerah terpencil dan mulai ditinggalkan penduduk muda ketimbang memikirkan bagaimana memajukan ekonomi dan menyediakan subsidi bagi keluarga muda agar tidak pindah ke kota besar. Hal yang lain adalah bagaimana mereka mengembar-gemborkan kata “internasional” sementara orang-orang asing – terutama yang seperti aku yang berkulit legam – masih tetap dianggap “soto” atawa orang luar. Selain itu Kerr juga melihat bagaimana Jepang dengan semangat tidak mau kalah membuat berbagai macam mega-struktur di berbagai daerah yang pada gilirannya tidak banyak membantu untuk membendung arus urbanisasi anak muda ke kota. Pendek kata, untuk memutuskan persoalan yang kecil, pemerintah Jepang berpikir secara “ultra-sophisticated” sehingga mengabaikan hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa memberikan solusi.

Kisah-kisah yang ditulis Kerr membuatku berpikir kembali saat Prof. Iokibe bertutur mengenai proposal pembangunan sea-wall di daerah yang rawan bencana tsunami. Dengan panjang pantai 34.751 km tersebut, aku berpikir berapa banyak dana yang harus disiapkan untuk membuat rangkaian sea-wall tersebut. Selain itu, dalam proposal tersebut disebut bahwa pemerintah harus menghidupkan kembali budaya tradisional dalam bentuk penyelenggaraan festival-festival daerah. Dari sini terlihat bahwa betapa mereka kembali terjebak dalam lingkaran “anjing dan setan” tersebut. Mereka terlalu rumit dan canggih untuk melihat dan menyikapi alam sekitar dan kehilangan sesuatu yang seharusnya lebih esensial untuk dilakukan.

Kenyataan tersebut membuatku bertanya kepada Prof. Iokibe, could you conquer mother nature by building man-made structure? daripada anda membuang uang dengan membuat struktur raksasa tersebut, lebih baik anda menggali local wisdom yang sangat kaya akan kisah-kisah penyelamatan dari bencana dan menggunakan local wisdom tersebut untuk mendidik dan memberi informasi kepada khalayak umum. Kesimpulanku: Jepang tidak bisa lagi mengandalkan kehebatan teknologinya untuk membendung kekuasaan alam, adalah lebih bijak bagi kita untuk mawas diri dan hidup dengan alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s