Kelas Menengah sebagai Sokoguru Revolusi Indonesia….

Mungkin anda akan mengernyitkan dahi ketika melihat judul yang sangat provokatif di atas. “Mana bisa kelas menengah menjadi agen revolusi… Revolusi itu hanya bisa dijalankan oleh kaum proletariat dan kaum tertindas melawan kaum penguasa modal…” mungkin ini adalah pendapat sebagian besar orang ketika ditanyakan hubungan antara kelas menengah dengan revolusi sosial.

Revolusi Rusia pada Oktober 1917 (sumber: Wikipedia)

Namun, sudahkan anda baca Tempo edisi 20 – 26 Februari 2012? Dalam laporan utamanya Tempo mengangkat isu kelas menengah yang konon katanya akan menjadi kekuatan baru Indonesia dalam menghadapi tantangan gombal eh global di masa depan. Dalam laporannya, Tempo mengatakan bahwa kelas menengah di Indonesia akan menjadi penggerak roda perekonomian, dan pada gilirannya mereka akan menjadi penggerak demokrasi dan politik di negeri kita.

Sebelum kernyitan dahi makin mendalam, ada baiknya kita lihat apa itu kelas menengah. Tante Wiki menjelaskan bahwa beberapa batasan kelas menengah yang secara garis besar digambarkan sebagai berikut:

Kelas menengah adalah sebuah kelompok masyarakat yang dalam masyarakat modern secara ekonomi dan sosial berada diantara kelas pekerja dan kelas atas. Pengukuran kelas menengah secara sederhana bisa dilihat dari beberapa hal misalnya tempat tinggalnya merupakan rumah yang dimiliki sendiri; jenis pekerjaannya merupakan pekerjaan manajerial dan klerikal; atau di beberapa negara berdasarkan garis keturunan ningrat. Di situs Middleclass.org definisi kelas menengah malah terlihat lebih jelas sebagai berikut:

“…a middle-class standard of living in the United States has come to mean having a secure job, a safe and stable home, access to health care, retirement security, time off for vacation, illness and the birth or adoption of a child, opportunities to save for the future and the ability to provide a good education, including a college education, for one’s children. [standar kehidupan kelas menengah di AS berarti memiliki pekerjaan tetap, rumah yang bersifat tetap, akses ke fasilitas kesehatan, uang pensiun, waktu cuti untuk liburan, sakit dan melahirkan atau mengadopsi seorang anak, kesempatan untuk menabung dan kemampuan untuk membiayai pendidikan termasuk pendidikan tinggi paling tidak untuk seorang anak].”

Konon, jika kelas menengah sebagaimana sesuai dengan definisi tadi menjadi mayoritas, maka negara tersebut akan lebih kuat dari sisi ekonomi, budaya dan demokrasi. Selain itu, majalah The Economist juga membatasi kelas menengah sebagai kelas yang menghabiskan paling tidak sepertiga dari total pendapatan dikurangi biaya makan dan perumahan untuk keperluan tersier.

Ingatanku melayang kembali ke beberapa belas tahun yang lalu, saat aku masih memakai seragam putih-abu-abu. Kami saat itu mempelajari sejarah revolusi Perancis. Saat itu ibu guru sejarah kami bertanya bagaimana murid-muridnya memposisikan kelasnya dalam masyarakat, apakah masuk dalam kelas atas, menengah atau bawah. Dengan polosnya kami menjawab kelas atas. Beliau tersenyum lalu menanyakan apakah kami tinggal di rumah miliki orang tua sendiri atau masih mengontrak, apakah kami cukup sandang pangan, dan apakah di rumah berlangganan majalah. Lalu beliau dengan caranya yang sederhana membuka mataku, bahwa saat itu keluargaku masuk dalam golongan kelas pekerja.

Anda memiliki kelebihan penghasilan untuk belanja, berlibur, membiayai kuliah dan menabung? Selamat, anda masuk ke dalam kelas menengah...

Kembali ke laptop… eh ulasan majalah Tempo, kelas menengah disimplifikasi berdasarkan hitungan Bank Dunia sebagai kelas yang secara finansial mampu menghabiskan uang 2 – 20 dollar AS sehari, artinya mereka yang memiliki kisaran penghasilan antara Rp. 600.000 – 6.000.000 per bulan. Di Indonesia sendiri, kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan tersebut berjumlah sekitar 90 juta pada tahun 2009 dan diperkirakan terus tumbuh seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6,7%. Namun statistik tersebut juga masih dipertanyakan, sebab setelah dihitung-hitung sekitar 73,7% anggota kelas ini merupakan orang yang memiliki pendapatan berkisar 2 – 4 dollar sehari dan sangat rentan terhadap gejolak ekonomi yang menyebabkan mereka terjerembab kembali ke jurang kemiskinan.

Dalam sisi politis, kaum menengah seringkali dicap sebagai sebuah kelompok yang “malas” dalam arti mereka telah mencapai “titik aman dan stabil” dalam kehidupan. Maka tak pelak dalam analisis Marx, kaum menengah ini disebut sebagai parasit yang menempel di tubuh kapitalisme tanpa keinginan untuk berinvestasi maupun berevolusi, kaum ini dilihat sebagai penghalang dan peredam keinginan kaum pekerja untuk memperoleh akses terhadap barang modal.

Sebenarnya, jika kita dalami lebih lanjut dan berdasarkan hasil kontemplasi seharian ini, terlihat bahwa sebenarnya kelas menengah adalah kelas yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Mari kita asumsikan bahwa seorang yang berasal dari kelas menengah adalah seorang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, mampu mencari informasi sebanyak-banyaknya dan minimal memiliki kompetensi untuk menganalisis sepotong informasi secara bijak. Maka bayangkanlah kekuatan 90 juta orang yang berkualifikasi sebagaimana yang telah saya sebut tadi apabila mereka berkehendak yang sama, tak ada yang sanggup menghadang kekuatan tersebut.

Sebagai contoh, mungkin kita pernah ingat kasus Prita Mulyasari, bayangkan apabila kesadaran akan pentingnya standar kesehatan sehingga kita tidak mengalami nasib yang sama dengan Prita menyebar di kalangan kelas menengah, dan kelas menengah sebagai kelas yang “sadar dan mampu” melakukan gerakan yang nyata seperti judicial review atau secara ekstrem class action untuk mendesak pihak berwenang untuk menetapkan standar kesehatan. Maka kita bisa mengharapkan kelas menengah sebagai kelompok masyarakat yang di masa depan menjadi mayoritas dan memiliki kebutuhan akan barang dan jasa yang berkualitas, bisa menjadi motor penggerak perbaikan negeri ini ke arah yang lebih baik, berkualitas, santun dan demokratis.

Koin Untuk Prita (sumber: Google)

Koin Untuk Prita (sumber: Google)

Tapi keadaan itu bukanlah sesuatu yang bisa terjadi dengan sendirinya, dan celakanya sistem pendidikan kita menekankan sisi kognitif dan cenderung meminimalisir sisi afektif dan psikomotorik menghasilkan anggota kelas menengah yang bisa dikatakan autis terhadap lingkungan. Sebagai contoh, jika mereka melihat pelanggaran hukum -mungkin yang simple seperti tidak mengenakan seat belt, atau pelanggaran marka- justru mereka mengikuti tindakan tersebut tidak mencegahnya atau minimal mencegah diri sendiri untuk melakukannya. “toh semua orang melakukannya”, demikian pikirnya.

Nah oleh karena itu, apabila sidang pembaca bisa mendalami tulisan ini melalui laman facebook dan berkesempatan untuk melakukan browsing mengenai apa-apa yang ditulis di sini, maka diasumsikan bahwa sidang pembaca masuk ke kelas menengah, pertanyaan selanjutnya apakah sidang pembaca berkeinginan untuk menjadi kelas menengah yang -sebagaimana dikupas dalam ideologi Marx- bersifat parasitis yang tidak mau bergerak, atau yang menjadi sokoguru sebuah revolusi yang insyaallah mengarahkan negeri kita menjadi negeri yang lebih berkualitas. Wallahualam bissawab.

N.B. Tulisan ini ditayangkan juga di laman facebook saya http://www.facebook.com/notes/cubluk-ajarwaskitha/kelas-menengah-sebagai-sokoguru-revolusi-indonesia/10150576639418445

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s