Kartini Galau

Andai saja pada saat R.A. Kartini hidup orang sudah menemukan jejaring media sosial macam facebook atau twitter, maka kita bisa melihat kicauan atau status update beliau yang menyuarakan kegalauannya melihat keadaan lingkungan sekitarnya. Tapi karena batasan ruang waktu dan teknologi, kegalauan tersebut dia tulis dalam surat-surat kepada beberapa kenalannya.

Surat-surat tersebut dituliskan pada periode 25 Mei 1889 sampai 7 September 1904, tepat sepuluh hari sebelum Tuhan memanggilnya. Surat-surat yang ditujukan ke Ny. Ovink-Soer istri asisten residen Jepara, Nn. Zeehandelaar seorang sahabat pena di Belanda, Prof. Dr. G. K. Anton dan istri sepasang tamu dari Jerman, Dr. Andriani, seorang ahli bahasa, H. H. van Kol dan istri, serta Mr. J. H. Abendanon dan istri, Direktur Pendidikan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tersebut dirangkai dan diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul ” door Duisternich tot Licht” atau dalam bahasa Indonesia “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

R. A. Kartini (sumber: wikipedia)

R. A. Kartini (sumber: wikipedia)

Dalam surat-suratnya, paling tidak ada beberapa hal menarik yang bisa saya tangkap, yaitu:

1. Sisi religius: Kartini merupakan wanita yang kuat memeluk agama orang tuanya yaitu agama Islam, walaupun dia tetap mengkritik beberapa praktek yang dirasa mengganggunya antara lain: pelarangan atas penerjemahan Al Qur’an dimana dia merasa bahwa kitab suci yang isinya sangat indah tersebut tidak tersampaikan maknanya kepada kaum Muslim di Jawa, sebab mereka tidak memahami bahasa Arab, bahasa yang dipakai dalam Al Qur’an; praktek poligami yang walaupun diizinkan dalam Islam, namun dia memandang praktek tersebut akan menyakitkan kaum perempuan.

2. Pendidikan: sebagian besar isi surat-surat tersebut mencerminkan keinginan kuat Kartini untuk mendidik orang-orang di lingkungannya, dalam hal ini orang Jawa terutama kaum perempuan. Dia sadar bahwa pendidikan untuk kaum perempuan menjadi kunci untuk memajukan bangsanya. Dia melihat bahwa pada saat itu tujuan hidup seorang perempuan adalah pernikahan – adalah aib besar bagi seorang wanita apabila dia tidak menikah – dan menghambakan dirinya pada suaminya. Cita-cita ini dia wujudkan dengan mendirikan sekolah yang ditujukan pada kaum perempuan walaupun anak perempuan dari keluarga bangsawan di pendopo kediaman Bupati Jepara pada pertengahan tahun 1903.

3. Kesadaran akan berbangsa dan berbahasa: Sebagai perempuan yang ingin maju, Kartini ingin belajar bahasa Belanda dengan baik, selain itu dia sadar bahwa lingua franca atau bahasa pergaulan di Hindia Belanda saat itu adalah bahasa Melayu, sebab para dokter bumiputra yang dididik di STOVIA atau sekolah dokter Hindia Belanda waktu itu adalah bahasa Melayu. Kesadaran berbangsanya muncul dalam usulannya untuk mengalihkan beasiswa sebesar 4.800 Gulden yang diberikan pemerintah kolonial untuk pendidikannya kepada Agus Salim, seorang pelajar dari Padang dan kelak menjadi Menteri Luar Negeri RI.
Berdasarkan beberapa hal menarik ini, saya bisa memaklumi mengapa Kartini menjadi figur yang tepat untuk menjadi simbol perjuangan emansipasi wanita Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s