Balada Caraka Kelana (01) CGK-SIN-NRT

Jakarta, 18 April 2009
Cuaca panas dan suhu yang mencapai 30 derajat celsius tidak menghalangi niat rekan-rekan baik rekan kerja maupun rekan hura-hura dan juga calon istri untuk melepas kepergianku di Bandara Soekarno – Hatta ke Jepang. Setelah enam bulan lebih tertunda dan tertahan oleh perintah pak Jup -atasan di kantor-, hari yang ditunggu itu telah tiba. Sebelumnya aku juga telah mengkontak rekan-rekan di calon tempat kerja baru -sebut saja pos Tokyo- untuk membantu fasilitasi seperti memesan hotel dan pengaturan lainnya sejak bulan November 2008. Mereka membalas dari kata-kata “ditunggu ya di Tokyo…” hingga kalimat “jadi nggak sih elo dateng ?!?!…” karena jangka waktu penundaan keberangkatanku yang cukup lama.
2669_1113784037461_455873_n Pelepasan massal

Aku memperoleh surat perintah penempatan ke ibukota Negeri Matahari Terbit -populer disebut sebagai slip merah karena ditulis dalam kertas pink- pada awal bulan November 2008. Selanjutnya aku dan rekan-rekan lain yang ditugaskan pada satu gelombang diwajibkan mengikuti orientasi pemberangkatan akhir November 2008. Kebetulan di kantor selain aku, Pak Nu kepala bagian di kantor juga ditugaskan dalam satu gelombang padahal kami sedang menangani proyek orientasi bagi Duta-duta Republik pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu, keberangkatan kami agak ditunda atas pak Jup sebagaimana aku ceritakan di atas.

Keberangkatanku itu juga menyisakan sepenggal kisah sedih. Rekan yang aku gantikan di pos Tokyo positif terjangkit kanker rahim. Beliau tergolek tak berdaya dari pertengahan tahun 2008 hingga dipulangkan ke tanah air dan meninggal dunia di Jakarta tepat sehari sebelum hari pungutan suara pemilu legislatif 2009, yaitu 8 April 2009.

Kedatanganku di Tokyo bukanlah kali pertama, sebelumnya pada periode November 2005  – Februari 2006 aku pernah magang di Pos Tokyo selama kurang lebih tiga bulan dan mencicipi dinginnya udara, suara berisik gagak dan sibuknya pos Tokyo.

Tepat pukul 14:00 pesawat Singapore Airline membawaku ke Jepang. Penerbangan yang aku pilih memaksaku transit di Changi selama kurang lebih 7 jam. Beda halnya dengan penerbangan Garuda, yang terbang non-stop selama 7 jam ke Bandara Narita waktu aku datang pertama kali ke Tokyo.

Setibanya di Changi, aku segera menuju terminal tempat penerbangan lanjutan ke Tokyo berada. Ada beberapa orang Indonesia yang sepertinya juga menuju ke Tokyo, mereka tersenyum dan mengikutiku saat petugas bandara menunjukan jalan ke terminal itu. Maklum saja mereka mengekorku karena aku mengenakan baju batik. Sesampainya di terminal transit, aku segera melakukan ormedkat alias orientasi medan singkat untuk mengetahui nomor gate penerbangan lanjutan ke Tokyo, money changer, toko buku, toilet, cafe dan tempat duduk yang nyaman. Setelah semua tempat tersebut ditemukan, aku mampir ke money changer untuk menukar sedikit receh dollar sisa magang tahun 2005 dan ke toko buku dan membeli sebuah novel. Novel yang aku pilih adalah otobiografi tokoh anti apartheid Afrika Selatan, Nelson Mandela berjudul “Long Walk to Freedom”.

Setelah beberapa saat, kakiku mulai tersiksa, karena ternyata sepatu yang aku beli dua hari sebelum berangkat kekecilan dan mulai menyiksa tuannya. Sambil terpincang-pincang, aku berpindah ke cafe untuk membeli kopi dan snack sebagai makan malam. Setelah sajian itu aku sikat habis, aku mencoba merebahkan diri di kursi tepat di depan gate keberangkatan hingga waktu boarding tiba sambil melepas sepatu jahanam penyiksa kaki.
Setelah membaca novel, rebahan bahkan tertidur sebentar, akhirnya petugas bandara mempersilahkan penumpang untuk masuk ke pesawat A380 dengan nomor penerbangan SQ638 tujuan Tokyo. Pesawat yang mampu mengangkut 550 orang dalam sekali terbang tersebut dipenuhi penumpang, walau tidak semua kursi terisi. Bahkan kursi sebelahkupun kosong dan memungkinkan kakiku untuk berselonjor di kursi tersebut. Perjalanan ini akan memakan waktu 7 jam, sebelum aku menginjakan kakiku lagi di Tokyo, namun bukan sebagai pemagang, sebagai pegawai yang resmi ditugaskan di Pos Tokyo selama tiga setengah tahun…. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s