Balada Caraka Kelana (03) Welcome Aboard

Setelah 7 jam di udara, akhirnya pada pukul 7:30 pesawat Airbus A380 mendarat dengan mulus di Narita. Gigitan sepatuku yang kekecilan benar-benar memaksaku untuk menggantinya dengan sepatu kets yang karena overweight di bagasi aku pindahkan ke tas punggung yang aku bawa. Konon karena penampilanku yang nyentrik itu -baju batik, sepatu kets biru dan tas punggung dan jaket kulit- aku tidak jadi dipertemukan dengan pejabat tinggi di kantor yang kebetulan berkunjung ke Tokyo.

Pos Tokyo dipimpin oleh mantan orang penting di Republik yang karismatik. Walau beliau menjadi pucuk pimpinan kami, beliau tidak segan menyapa kami dulu. Figur kebapakan beliau membuat kami secara bergurau memanggil beliau Abah, walaupun tentu saja tidak di depan beliau. Selain itu, Abah dibantu oleh wakilnya pak Yul yang datang pada waktu aku masih magang di pos Tokyo beberapa tahun lalu. Lalu ada pak Her yang menangani masalah per-pangrehpraja-an, lalu pak Bas ahli perniagaan terus pak Han orang hubungan masyarakat dan pak Jab dan pak Ad yang menjadi atasan sekaligus rekan satu bagian, serta rekan beberapa tingkat di atas seperti mas Fer, mas Hid dan juga rekan setingkat: Jus, Ima, Wan dan Kar. Selain itu, ada juga rekan-rekan di bagian tata usaha yang digawangi oleh pak Nov dan bu Tan dan bagian komunikasi dan persandian yang dipimpin pak Sur -yang juga dipanggil “ayah” oleh beberapa staf- dan dibantu oleh pak Had.

20121216-194053.jpg

Staff dan Wisma Pos Tokyo

Sebagai salah satu perwakilan yang besar, Pos Tokyo juga memiliki beberapa pejabat bawah kendali operasi di beberapa bidang yakni pertahanan yang dikomandani Kolonel Ham dan Mayor In; pendidikan yang dipimpin Prof. Mun; imigrasi yang digawangi pak Is; perdagangan yang dikawal pak Bud; industri yang dipimpin pak Dwi; perhubungan yang dipegang pak Son dan dibantu pak Sab; pertanian yang dikepalai pak Puj; kehutanan yang diatur oleh bu Sri; dan keuangan yang dijabat oleh pak Jar.

Singkat cerita, setibanya di Tokyo aku dibookingkan hotel bisnis -hotel murah yang luasnya 18 dan 22 meter persegi- di dekat kantor. Masalah yang pertama muncul adalah sewa hotel. Berbeda dengan tempat lain, hotel ini mewajibkan tamu membayar di muka. Aku beruntung sempat menukar receh tersisa ke mata uang yen, namun celakanya sisa uang tadi hanya cukup untuk membayar sewa hotel hingga Senin, dan apabila hari Senin tidak diperpanjang, aku terancam dideportasi dari hotel itu. Keberuntungan kedua datang pada hari Minggu, saat mbak Jus datang dan memberikan bantuan lunak tanpa bunga untuk memperpanjang sewa hotel.

Hari Senin akhirnya datang, setelah basa-basi dengan satpam baru -yang waktu aku magang belum ada- aku diminta menemui pak Yul untuk melapor secara resmi. Awalnya pak Yul menugaskan aku di humas sambil menunggu arahan Abah. Namun keesokan harinya aku ditugaskan Abah ke bagian pelayanan. Di bagian inilah aku melewatkan lebih dari separuh periode pangabdianku di Tokyo…. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s