Balada Caraka Kelana (05) Hajatan di Halaman Tetangga…

Indonesia sebagai negara demokratis terbesar ketiga di dunia menyelenggarakan hajatan demokrasi secara ajeg per lima tahun. Pos Tokyopun menyelenggarakan hajatan demokrasi berupa pelaksanaan pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden. Inilah keunikan penyeleggaraan hajatan demokrasi di halaman [negara] tetangga.

Berdasar data yang dimiliki oleh panpel pemilu Tokyo, 499 pemilih telah terdaftar akan menggunakan haknya melalui Tempat Pemungutan Suara (TPS) di balai Indonesia saat pemungutan suara nanti. Sedangkan pemilih yang akan menyalurkan haknya melalui korespondensi/pos telah terdaftar sebesar 13.100 orang.

Selain mempersiapkan pemungutan suara, panpel juga bertugas untuk melakukan sosialisasi kepada WNI yang tinggal di berbagai pelosok di Jepang. Beberapa kali panpel didampingi para punggawa Pos Tokyo melakukan sosialisasi di kantong-kantong WNI antara lain di Shizuoka-ken, Ibaraki-ken, Aichi-ken dan juga di wilayah metropolitan Tokyo.

Sosialisasi Pemilu di Jepang

Sosialisasi Pemilu di Jepang

Masalah timbul ketika waktu pemilihan presiden semakin dekat, panpel pemilu belum menerima logistik dari KPU Pusat berupa surat suara. Beruntung beberapa hari sebelum hari pemungutan suara kiriman surat suara tersebut datang ke Pos Tokyo. Kesulitan kedua menghadang panpel pemilu, sebab berdasar data yang ada, panpel harus melipat surat suara sesuai ketentuan KPU sebanyak 13. 599 lembar dalam waktu kurang dari seminggu. Namun, inilah uniknya Jepang -sebuah negara yang menawarkan berbagai solusi untuk berbagai masalah-; saat anggota panpel berjibaku melipat surat suara, salah satu anggota panpel memperoleh informasi mengenai teknologi Jepang yang mungkin tidak ditemui di negeri lain yaitu mesin pelipat kartu suara. Mesin ini sangat meringankan beban panitia pemilu yang dikejar tenggat hari pemungutan suara. Alhasil, panpel segera mengirimkan ribuan surat suara ke pabrik tersebut, dan dalam waktu sehari, 13.599 surat suara selesai dilipat!

Pada saat pemilihan legislatif, pemungutan suara langsung diadakan pada tanggal 9 April 2009 sesuai jadwal, namun penghitungan suara rampung pada tanggal 18 April 2009 karena menunggu kiriman surat suara melalui pos. Pemilu legislatif di Tokyo menghasilkan suara terbanyak untuk salah satu partai berbasis Islam (sebut saja si “Putih”) diikuti partai berbasis nasionalis (sebut saja si “Biru”).

Pemilihan Presiden dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2009 sedangkan penghitungan suara juga baru rampung sekitar tanggal 20 Juli 2009 karena menunggu datangnya surat suara via pos. Hasil pilpres di Tokyo juga mengunggulkan pasangan Capres-cawapres yang juga menang di Pilpres 2009.

Sebagai salah satu anggota “cabutan” panpel pemilu karena kebetulan kursi yang aku tempati adalah kursi sekretariat panpel pemilu, aku juga ikut serta dalam berbagai acara sosialisasi dan juga menerima berbagai keluhan, pertanyaan, permintaan dari WNI di Jepang yang bersemangat untuk melaksanakan hak politiknya. Memang ada diantara mereka yang tinggal secara illegal dan takut untuk meminta surat suara, namun aku yakinkan agar mereka berkoordinasi antar sesama mereka dan WNI yang memiliki izin tinggal legal untuk dapat menerima dan menyalurkan surat suara kepada yang berhak…. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s