Mau Dibawa Kemana Hubungan Kita…. (melihat hasil pemilu Jepang 2012)

Beberapa hari ini Jepang menjadi sorotan mata dunia. Setelah tertunda sekian lama, pada tanggal 14 November 2012 Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda mengumumkan bahwa dirinya akan membubarkan Parlemen dan menggelar pemilihan umum guna memilih wakil rakyat yang baru. Langkah ini jelas membahayakan posisi partai pemerintah yakni Partai Demokrat Jepang (DPJ) yang dipimpinnya, oleh karena itu pernyataannya ditentang oleh anggota dan pengurus partai -termasuk Sekjen DPJ Azuma Koshiishi-. Namun melihat popularitas DPJ yang makin terpuruk dan desakan partai oposisi yang membantunya untuk menggolkan undang-undang reformasi kesejahteraan sosial, aku melihat bahwa PM Noda tidak memiliki cara lain untuk menyelamatkan pemerintahannya kecuali membubarkan parlemen.

Lalu datanglah hari itu, Minggu 16 Desember 2012. Diiringin dinginnya angin musim dingin yang mulai menggigit, konon sekitar 12 juta orang atau sekitar 11,54 persen dari jumlah total pemilik suara yang sah memenuhi bilik-bilik pemungutan suara untuk memilih wakilnya di parlemen. Hasilnya bisa diramalkan, DPJ kehilangan 173 kursi di parlemen dan hanya mampu mengumpulkan 57 kursi, sementara partai oposisi yaitu partai Liberal Demokrat memperoleh kemenangan luar biasa dengan mengumpulkan 294 kursi, naik 119 kursi dari hasil pemilu sebelumnya.

Shinzo Abe, Ketua LDP yang memenangi Pemilu Jepang 2012 (sumber: Kyodo)

Shinzo Abe, Ketua LDP yang memenangi Pemilu Jepang 2012 (sumber: Kyodo)

Hasil ini tampaknya memperlihatkan keinginan publik Jepang untuk menghukum DPJ yang tidak mampu mewujudkan manifesto “surgawi” yang mereka suarakan pada tahun 2008 dan keinginan untuk merasakan stabilitas politik sehingga sumber daya negara yang bisa dipakai untuk menstimulasi kembali ekonomi Jepang tidak disia-siakan untuk proses politis yang bertele-tele.

Dari kacamataku, memang DPJ menjadi “wrong man in the wrong place”. Ketika mereka meraih suara terbanyak dan membentuk pemerintahan, kondisi domestik Jepang dan kondisi internasional berada dalam titik nadir. Para penguasa kala itu adalah orang-orang hawkish yang berprinsip “either with me or against me” sehingga menyulut berbagai konflik di seluruh pelosok dunia. Kita lihat Amerika Serikat dengan segala kemampuannya menegakan demokrasi ala mereka di berbagai belahan dunia. Irak diserang, Afghanistan diduduki, ribuan orang diciduk, di-waterboarding, ditahan tanpa pengadilan di berbagai kamp penjara seperti Guantanamo. Para pemimpin Jepang pada saat itu juga banyak yang berprinsip sama -hawkish- termasuk Shinzo Abe, pemimpin LDP saat ini.

Ketika orang muak dengan keadaan itu, mereka mulai memalingkan diri ke partai dan tokoh yang menyuarakan perubahan, perdamaian dan pembaruan sistem politik yang menyeret dunia ke konflik. Lalu saat itu jargon perubahan menjadi sebuah kenicayaan yang dipilih publik. Di Amerika Serikat, jago partai Republik Senator John McCain tidak mampu melawan popularitas Senator Barack Obama yang mewakili negara bagian Illinois dan Menteng (negara bagian yang belakangan memilih bergabung dengan DKI Jakarta :D) dengan jargon “Change, Yes We Can”.

Jepangpun pada saat itu mengalami demam perubahan. Kepemimpinan LDP yang mendominasi politik Jepang selama hampir 53 tahun dan dipandang sebagai bagian dari “Old Establishment” yang intoleran dan korup juga mengalami kekalahan telak. Pemilih Jepang lebih mendukung DPJ, partai yang menjanjikan perubahan seperti strukturisasi birokrasi, tunjangan anak, pembebasan biaya sekolah hingga SMU, pembebasan biaya tol, perbaikan struktur dan peningkatan upah pekerja, serta pengurangan pajak konsumsi. Dengan janji surgawi ini, DPJ memperoleh 308 kursi di pemilu 2009.

Janji surgawi itu jugalah yang membuat DPJ memiliki beban luar biasa. Untuk mewujudkan janji surga itu, anggaran pemerintahan Jepang di bawah DPJ membengkak; misalnya tunjangan anak sebesar ¥ 26.000/anak akan menimbulkan beban ¥ 5 triliun per tahun ditambah janji DPJ untuk tidak menaikan pajak konsumsi berpotensi mengurangi pendapatan negara.

Sebagai akibat beberapa faktor seperti makin lesunya ekonomi dunia menyusul kebangkrutan Lehman Brothers yang menimbulkan dampak sistemik di Amerika (wiih… macam Bu Ani saja bahasaku…) dan posisi hutang negara PIGS (Portugal, Italy, Greece dan Spain) di Uni Eropa yang mengancam integritas moneter Eropa sekaligus melemahkan daya beli Eropa, penguatan nilai mata uang yen, serta faktor terparah yakni Gempa dan Tsunami yang melanda wilayah Jepang Timur pada tanggal 11 Maret 2011 membuat pemerintah Jepang di bawah DPJ tak berdaya, boro-boro untuk mewujudkan janji surga, bahkan untuk mempertahankan kinerja ekonomipun mereka tidak berdaya.

Puncak kegagalan DPJ adalah pengesahan UU Kenaikan Pajak oleh Majelis Rendah pada tanggal 26 Juni 2012 dan oleh Majelis Tinggi pada tanggal 10 Agustus 2012. UU ini merupakan pengingkaran terhadap manifesto DPJ untuk melakukan moratorium kenaikan pajak konsumsi paling tidak untuk 5 tahun.

Dalam pergaulan antar-bangsapun, para pemimpin DPJ dianggap kurang tegas untuk menekankan keutuhan wilayah Jepang. Ketika Presiden Lee Myungbak dari Korsel melakukan kunjungan ke pulau Dokdo -dikenal sebagai Takeshima di Jepang- untuk menegaskan bahwa Dokdo merupakan wilayah Korsel dan upaya Republik Rakyat China dengan mengirim para relawan mendarat di Kepulauan Senkaku untuk menekankan kedaulatan di wilayah tersebut, publik jengah melihat pemerintah tidak tegas terhadap kedua negara tersebut. Mungkin terpicu oleh kasus ini, Gubernur Tokyo, Shintaro Ishihara mengagas pembelian kepulauan Senkaku. Tindakan ini membuat pemerintah -walaupun terlihat enggan- membeli Kepulauan Senkaku dari keluarga Kunihara. Serangkaian tindakan inilah yang memicu memburuknya hubungan Jepang dengan China, disusul dengan perusakan berbagai fasilitas bisnis milik pengusaha Jepang di China.

Kepulauan Senkaku (sumber: wikipedia)

Kepulauan Senkaku (sumber: wikipedia)

Kemenangan LDP dalam pemilu 16 Desember 2012 lalu membuat publik Jepang menaruh banyak harapan kepada pemerintahan di bawah (calon) PM Shinzo Abe. Para pelaku bisnispun juga menyambut kemenangan ini, mereka berharap LDP akan mampu membawa ekonomi Jepang kembali ke jalur perbaikan. Dari sisi nilai tukar, yen pun melemah terhadap dollar AS.

Menurut sigi yang dilakukan kantor berita Kyodo terlihat bahwa 76% wakil rakyat menyatakan bahwa mereka mendukung perubahan pasal 9 UUD Jepang yang menyatakan bahwa Jepang menolak perang sebagai hak negara dan tidak akan mempertahankan potensi kekuatan senjata; 66,5% dari mereka juga menolak keikutsertaan Jepang dalam Trans Pacific Partnership -sebuah kerangka liberalisasi perdagangan yang melibatkan 11 negara di Lingkar Pasifik-; 61,9% dari mereka mendukung pengurangan ketergantungan Jepang pada tenaga nuklir; 77,5% mendukung kenaikan pajak konsumsi dan 96,9% dari wakil rakyat sepakat bahwa masalah ekonomi dan penciptaan lapangan kerja merupakan tantangan terbesar bagi pemerintah Jepang.

Masyarakat internasionalpun menyambut kemenangan LDP. Presiden Amerika Serikat mengucapkan selamat kepada (calon) PM Abe dan siap untuk meningkatkan aliansi kedua negara dalam pertemuan puncak Jepang – AS di bulan Januari 2013. Beberapa pemimpin negara seperti Singapura, Korsel, Kamboja dan Australia juga mengucapkan selamat kepada pemimpin LDP atas kemenangannya di pemilu tersebut.

Reaksi yang sedikit “kritis” muncul dari Republik Rakyat China. Media China mengingatkan publik bahwa Shinzo Abe adalah pemimpin yang memiliki karakter yang sedikit nasionalis dan oleh karenanya (calon) PM Abe dihimbau untuk tidak memperlihatkan posisi keras dalam sengketa wilayah dan mengutamakan dialog untuk menyelesaikan sengketa tersebut.

Oleh karena itu, semua orang sekarang bersenandung… mau dibawa kemana hubungan kita… sembari menunggu platform yang dibawakan oleh pemerintahan baru Jepang di bawah LDP.

Wallahu ‘alam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s