Balada Caraka Kelana (06) Qobiltu Nikakhaha….

Walau zaman berubah dan musim berganti, namun ada beberapa aspek budaya yang tak lekang dimakan waktu. Bagi kami -orang Jawa- setua-tuanya kita, selama kita belum menikah, kita dianggap belum “mentas” atau keluar dari kubangan, masih jadi tanggungan keluarga besar kita dan dianggap belum menjadi manusia sempurna. Konon, kamipun belum boleh menggunakan nama dewasa sebelum menikah dan direstui orang tua dan mertua, sebab nama dewasa kami diambil satu bagian dari nama orang tua dan nama mertua di bagian lain.

Maka demikianlah, dalam masa penugasan di Pos Tokyo, aku tidak hanya membantu orang lain untuk “mentas” tapi aku juga mengalami upacara “mentas” alias menikah. Walaupun upacara ijab qobul dan resepsi hanya memakan waktu kurang dari 8 jam, namun persiapan menuju hari H itu memakan waktu kurang lebih 8 bulan.

Kami berdua sudah menjalin hubungan sekitar 8 bulan pada saat aku berangkat ke Pos Tokyo pada April 2009. Kami berdua dikenalkan oleh salah satu rekan kerja sahabat dekatku di pertengahan tahun 2008. Ketika aku berangkat ke Pos Tokyo, kami berkomitmen untuk meneruskan hubungan ke jenjang pernikahan pada akhir tahun 2009.

Namun jalan panjang ke pelaminan adalah -meminjam istilah Kahlil Gibran- jalan yang terjal dan berliku. Pasang surut, pertengkaran, cuek-cuekan menghiasi hubungan kami, walaupun komitmen itu tetap terpelihara. Baik aku dan calon istriku mengalami tekanan yang cukup luar biasa, mengingat beban tugasku di Pos Tokyo yang kadang tidak mengenal waktu dan halangan waktu dan tempat yang hanya memungkinkan aku membantunya dengan mengirimkan uang di satu pihak; dan kerepotan calon istriku untuk mengurus segala macam hal yang terkait dengan pernikahan, dari pendaftaran di KUA, persiapan oleh wedding organizer, pengurusan keluargaku yang datang melamar ke Jakarta di pihak lain.

Karena persyaratan yang ditetapkan kantorku, berbagai dokumen sudah aku buat pada bulan Juni 2009. Beruntung ada rekan di Pos Tokyo yang juga akan mengakhiri masa lajangnya, dia bersedia untuk membagi softcopy berbagai dokumen yang diperlukan dan juga memberitahukan rangkaian prosedur yang harus dilalui, termasuk wawancara dengan Wakil Kepala Pos Tokyo, pak Yul dan pengiriman dokumen perizinan menikah.

Sebagai catatan, sesuai PP no 10 tahun 1983 juncto PP no 45 tahun 1990, kami para pelayan publik diwajibkan untuk melaporkan perkawinan melalui saluran hierarki (dalam hal ini biro kepegawaian) ke pimpinan Kementerian. Dalam kasusku, calon mempelai bahkan diwajibkan mengikuti wawancara dan pengarahan sebelum menuju ke pelaminan.

Setelah segala persyaratan aku lengkapi, kantor pusat di Jakarta menginformasikan bahwa izin pernikahanku telah memperoleh lampu hijau. Calon istriku tinggal mengikuti pengarahan di kantor pusat 2 hari sebelum hari H. Akupun mengajukan cuti penting satu minggu sebelum dan sesudah hari H. Masa cuti yang terbilang pendek aku ambil dengan mempertimbangkan bahwa ada 2 rekan lainnya yang juga akan mengakhiri masa lajangnya pada bulan November 2009 dan Januari 2010.

Pada tanggal 5 Desember 2009, aku kembali ke Jakarta. Dalam waktu seminggu, aku dan Wit bahu-membahu mempersiapkan acara pernikahan kami. Wit sedikit jengkel karena keinginannya menikah dengan white swan wedding dress tidak disepakati salah satu anggota keluarga yang cukup berpengaruh. Aku sendiri tidak memiliki preferensi, tapi aku sarankan untuk menggunakan pakaian adat Jawa, daripada menggunakan baju teluk belanga. Keputusan akhir menggunakan adat Jawa juga disebabkan ayah Wit adalah orang Jawa, walaupun keluarga besarnya berdarah Banjarmasin – Melayu.

Dua hari sebelum hari H, kami berdua -walaupun aku sudah diberi pengarahan tapi biro kepegawaian meminta kami berdua datang- datang ke kantor dan mengikuti pengarahan. Sebelum kami ke biro kepegawaian, aku mampir di tempat kerjaku dulu dan mengucapkan terima kasih kepada eks rekan kerja yang membantu. Selain itu, aku juga meminta bantuan beberapa rekan seangkatan -Eltje dan Vahd- untuk menjadi pager ayu dan pager bagus.

Hari Sabtu, 11 Desember 2009, keluarga besarku datang dari Magelang. Rumah kontrakan yang sempit itu makin sempit karena sehari itu dipenuhi tambahan 15 orang. Beruntung mereka juga membawa bahan makanan dari kampung, dan mengurangi kesibukanku untuk mengurus pernikahan. Sore itu, calon tante dan adik iparku datang membawakan air kembang setaman untuk upacara siraman. Ibu dengan tangan bergetar menyiramkan air kembang itu dan menyuruhku untuk berdoa dalam hati meminta keselamatan dan keberkahan saat menikah dan untuk pernikahan itu sendiri.

Esok hari, setelah bangun di saat adzan subuh berkumandang, seluruh keluarga besar bersiap untuk menghadiri ijab qobul dan resepsi. Dengan satu kamar mandi merangkap WC, terbayang betapa panjangnya dan ributnya 15 orang untuk sekedar mandi. Tepat jam 8 kami berangkat menuju gedung resepsi untuk mengikuti rangkaian ijab qobul dan resepsi di bilangan Bintaro Jakarta Selatan. Cuaca pada pagi itu cukup cerah, walaupun dikhawatirkan siang hari akan turun hujan.

Tepat pada pukul 09:00 hari Minggu tanggal 12 Desember 2009, aku mengucap ijab “saya terima kawin dan nikahnya… dengan mas kawin cincin emas 5 gram”. Aku dan Wit sekarang resmi menjadi suami istri. Acara kemudian diteruskan dengan resepsi yang dimulai tepat pukul 10:00. Tamu dari berbagai kalangan, kerabat, rekan kerja, teman kuliah, teman sekolah datang dan memberikan restunya. Ibu tampak bahagia melihat anaknya “mentas” dan tidak lagi menjadi beban keluarga.

Qobiltu Nikakhaha...

Qobiltu Nikakhaha…

Sehari setelah penyelenggaraan pernikahan, aku datang ke kantor untuk menyerahkan berkas pelaporan pernikahan dan permintaan agar istriku bisa dikirim ke Tokyo sebagai pendamping. Aku sekaligus mengurus permintaan exit permit berbagai persiapan menjelang kepulanganku kembali ke Tokyo.

Tiga hari setelah resepsi di Jakarta, aku dan istriku mengikuti acara ngunduh mantu di Magelang. Walaupun acara tersebut diselenggarakan pada malam 1 Muharram, atau 1 Suro yang dianggap keramat oleh sebagian orang, kami dengan niat baik mengumpulkan saudara dan kerabat selain itu memperdalam silaturahmi, juga ingin merayakan pernikahanku. Tetangga dan kerabat turut hadir dan memeriahkan acara itu. Bahkan kerabat yang jauh tinggal di pesisir utara Jawapun pada berdatangan dan membuat acara benar-benar meriah. Keluarga istriku yang tinggal di Solopun berdatangan dan benar-benar membuat acara sangat meriah. Ibu tak henti-hentinya tersenyum menyambut tamu-tamunya yang datang dan memberikan restunya kepada anak dan menantunya. Senyum ibu membuat semua kelelahan dalam mempersiapkan pernikahan hilang…. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s