Balada Caraka Kelana (09): Yang Tersisa di Tahun Kedua

Pada awalnya aku membayangkan akan menjaga gawang pelayanan dan perlindungan dalam waktu setahun, namun setelah aku setahun di pelayanan, Abah tidak juga memindahku ke bagian lain. Mungkin karena JR, pengganti mbak Jus -beliau kembali Desember 2009- yang datang pada bulan Maret 2010 juga wanita, sehingga Abah tidak tega menugaskan JR di bagian pelayanan dan perlindungan. Alhasil, hingga awal paruh kedua tahun 2011 aku masih bertugas di bagian ini. Berikut catatan yang aku kumpulkan dalam sisa waktu di pelayanan dan perlindungan antara paruh kedua 2010 dan paruh pertama 2011.

Selama lebih dari setahun di bagian ini, tugasku tak jauh dari dua hal yaitu pelayanan tamu dan delegasi dari Indonesia dan pelayanan serta perlindungan WNI. Beberapa tamu penting yang tercatat antara lain:

Ketua MPR RI pak TK disertai ibu Mega mantan Presiden RI berkunjung ke Tokyo pertengahan Juni 2010 beserta rombongan. Beliau berdua datang untuk melakukan medical check up. Di sela-sela kegiatan itu, beliau berdua berbelanja, dan aku dibelikan pak TK sepasang sepatu. Selain mendampingi pak TK aku juga mendampingi ibu Mega. Satu hal yang aku perhatikan adalah beliau kemana-mana selalu membawa sambal ABC. Sewaktu ibu Mega datang medio Agustus 2009, sambal ABC adalah satu item yang selalu ada dalam tas beliau.

Setelah pak TK kembali ke Jakarta, aku diminta untuk menjemput dan mendampingi pak ES, anggota DPR dari Fraksi oposisi besar yang datang bersama anak dan istrinya pertengahan Juni 2010. Awalnya kami mendapat berita bahwa beliau datang sendiri, maka dari itu, kami hanya siapkan satu buah sedan saja. Namun pada hari kedatangan, pak ES meminta kita menunggu hingga siang. Beliau mengatakan bahwa anak dan istrinya datang dari Korea dan mereka sepakat untuk bertemu di Narita. Kontan informasi ini membuat kita deg-degan, karena mobil yang disediakan hanya sedan. Aku secara halus menginformasikan bahwa karena aku hanya membawa mobil, dikhawatirkan anak dan istri pak ES tidak bisa diangkut. Beliau tertawa,” Sedan saja cukup kok mas, cuman kita bertiga ini, duduk di belakang sudah cukup”. Akhirnya beliau bertiga berdesak-desakan ketika kami antar ke hotel.

Untuk mempromosikan Indonesia di kalangan publik Jepang, pos Tokyo menyelenggarakan Festival Indonesia. Sahibul hikayat, festival ini tadinya diorganisir oleh rekan-rekan pegawai setempat pada tahun 2006 dan diselenggarakan di Taman Yoyogi, sebuah taman umum di tengah kota Tokyo. Waktu yang dipilih adalah bulan Juli, di puncak musim panas karena kebanyakan orang Jepang melewatkan libur musim panas dan haus akan hiburan. Negara-negara lain seperti Thailand, Vietnam, Laos, Filipina, India, Sri Lanka, Colombia juga menyelenggarakan festival negaranya pada waktu-waktu itu. Pada tahun 2010, pos Tokyo membentuk panitia resmi yang diketuai pak Bas untuk menyelenggarakan festival ini. Untuk mendukung pelaksanaan Festival Indonesia 2010, aku dan tim pelayanan tamu menjemput dan mengurus barang bawaan tim kesenian yang dibiayai oleh Kemenbudpar serta kelompok band undangan yaitu Utopia datang pada awal Juli 2010.

Pada akhir Agustus 2010, kami memperoleh informasi bahwa putra Presiden akan melakukan transit di Bandara Narita saat kembali ke Amerika Serikat. Aku beserta tim dan bagian pertahanan berangkat ke Narita untuk menjemput beliau. Di sana, aku melihat bagaimana kikuknya seorang Kolonel -kepala bagian pertahanan- datang dan menjemput putra Presiden yang kebetulan saat itu berpangkat Kapten. Saat ditanya bagaimana perasaaan pak Tri, kepala bagian pertahanan yang baru pengganti pak Ham, menjemput kapten, beliau tersenyum,” Jangan dilihat dia seorang kapten, lihat dia sebagai putra presiden”.

Bulan Agustus tahun 2010 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sebagai perwakilan negara dengan penduduk Muslim terbesar, pos Tokyo memfasilitasi Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia (KMII) di Jepang menyelenggarakan kegiatan menyambut bulan suci ummat Islam ini. Oleh karena itu kami membuat undangan dan membantu mengurus pembuatan visa masuk ke Jepang bagi para Ustad. Satu hal yang aku ingat terdapat seorang ustad yang identitasnya tidak jelas, dalam arti KTPnya berasal dari Jawa Timur sedangkan kartu keluarganya berasal dari daerah yang berbeda. Entah bagaimana, akhirnya pak ustad tersebut berhasil memperoleh visa masuk ke Jepang.

Sesuai ketentuan yang ada, Abah seharusnya kembali akhir tahun 2009, seingatku bulan November, namun dengan berbagai pertimbangan, Pusat memutuskan untuk memperpanjang penugasan Abah hingga September 2010. Beberapa bulan sebelumnya kami memperoleh informasi bahwa pengganti Abah adalah mantan kepala lembaga penanaman modal yang untuk memudahkan kita panggil Papi. Bulan Juli 2010, Papi sempat berkunjung dan bertemu Abah, untuk melihat dan mencari tahu tugas pokok, fungsi dan irama kerja pos Tokyo. Akhirnya setelah hampir setahun diperpanjang, pada tanggal 1 September 2010, Abah menyelesaikan tugas dan kembali ke Jakarta. Pada hari itu juga beliau meresmikan penerbangan perdana Garuda Indonesia rute Narita – Cengkareng. Hampir seluruh kepala bagian menghadiri acara tersebut. Alhasil 13 orang staf masuk ke wilayah terbatas Narita Airport dan sebagai akibatnya aku harus datang ke Protocol Office Gaimusho untuk menjelaskan acara pelepasan dan peresmian penerbangan Garuda itu. Hanya selang 10 hari, Papi, duta republik yang baru datang pada tanggal 10 September 2010.

Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya, pos Tokyo disibukkan dengan kedatangan delegasi Indonesia untuk mengikuti sidang APEC 2010 di berbagai kota di Jepang, termasuk salah satu pejabat eselon 2 di Kemko Perekonomian yang selalu mengeluhkan kurangnya pelayanan bagi dirinya, tanpa melihat bahwa pos Tokyo dan pos Osaka sudah mengerahkan personilnya yang memang terbatas untuk mengurus rombongan “odong-odong” itu.

Puncak kegiatan APEC adalah Leaders’ Week atau lazim disebut KTT APEC yang diikuti oleh para pemimpin negara dan pemerintahan anggota APEC, termasuk Presiden RI. Dalam rangka pelaksanaan KTT APEC tersebut, tim advance kunjungan RI1 yang terdiri atas personel Paspampres, Protokol Istana dan Protokol Kemlu datang dan meninjau tempat pelaksanaan Leaders’ Week APEC 2010 di Yokohama akhir September 2010. Tim ini dipimpin oleh salah satu pejabat di lingkungan protokol kementerian yang sering kali “memaksakan” berbagai permintaan yang membuat pos Tokyo tidak enak kepada Gaimusho.

Pada akhir September 2010, aku membantu kepala bagian keuangan yang saat itu dijabat pak Rif menggantikan pak Jar, memfasilitasi salah satu mantan Menteri Keuangan datang ke Jepang untuk mengantar istrinya berobat kanker paru-paru di Jepang. Sang ibu sendiri menjalani terapi dan operasi pengangkatan paru-paru beberapa kali di Jepang setelah itu.

Sesuai kesepakatan pemimpin kedua negara, Indonesia Japan Joint Economic Forum diselenggarakan bergantian di Jakarta dan Tokyo. IJJEF kedua diselenggarakan di Tokyo pada awal Oktober 2012. Beberapa menteri dibawah Menko Perekonomian datang untuk mengikuti acara tersebut. IJJEF terdiri atas rangkaian pertemuan dan ceramah umum. Dalam rangkaian acara itu, terjadi situasi ackward dimana beberapa orang menteri dan kepala lembaga pemerintah serta Papi duduk satu deretan, padahal mereka tidak akur, beruntung hal itu disadari oleh personil pos Tokyo dan dalam beberapa menit sebelum acara mulai, urutan tempat duduk itu berhasil diubah. Insiden dilanjutkan dengan pembatalan salah satu kepala lembaga pemerintah untuk berbicara. Hal ini membuat beliau memarahi pejabatnya yang ada di pos Tokyo.

Tamu selanjutnya adalah Badan Legislasi DPR datang pada pertengahan Oktober untuk bertemu dengan mitra parlemen di Tokyo. Seperti biasa, mereka juga melakukan peninjauan ke daerah-daerah wisata dan belanja.

Indonesia adalah anggota UN Convention on Biological Diversity dan negara pihak konvensi tersebut secara rutin menggelar pertemuan yang dikenal sebagai COP (Convension of the Parties). COP kesepuluh tahun 2010 diselenggarakan pada akhir tahun 2010. Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Kehutanan datang ke Nagoya untuk menghadiri pertemuan tersebut. Sebelum ke Nagoya, Menteri LH mampir ke Tokyo untuk menandatangani MoU kerjasama lingkungan hidup dengan Menteri LH Jepang. Aku mendampingi Menteri LH di Tokyo dan esok harinya ke Nagoya untuk mendampingi Menteri Kehutanan RI.

Banyaknya tamu dan Delegasi RI yang datang dan meminta fasilitasi kepada pos Tokyo seringkali membuat kami, personel bagian pelayanan dan perlindungan kewalahan, apalagi jumlah staf bagian ini hanya 4 orang. Ketika ada tamu datang dan ada kasus yang harus ditangani, kami harus pandai-pandai membagi waktu dan alasan agar tamu tidak merasa ditinggalkan dan kasus juga bisa segera ditangani. Melihat kerepotan kami, Papi berinisiatif membuat protap pengurusan tamu. Kami membuat draft dan disahkan sebagai Surat Keputusan Kepala Perwakilan tentang Prosedur Tetap Penjemputan dan Pengantaran Tamu pada akhir Oktober 2010.

Puncak kegiatan APEC 2010 di Jepang berlangsung pada tanggal 6 – 18 November 2010 di Pacifico Convention Center, kota Yokohama, sekitar 25 kilometer dari Tokyo. Presiden dijadwalkan hadir, namun karena tanggap darurat Merapi, status kehadiran beliau selalu on dan off. Keadaan ini tidak hanya membuat aku dan tim protokol senam jantung, tapi membuat sewot Papi yang selalu memonitor rencana kedatangan RI1 ke Jepang. Akhirnya Presiden hanya hadir 2 hari yakni pada 12 – 14 November 2010, selanjutnya Wapres mengikuti rangkaian acara APEC tersebut dari tanggal 14 – 17 November 2010. Di acara inilah aku bisa melihat secara langsung Presiden AS, Barack Obama yang saat itu baru setahun menduduki kursi kepresidenan dan dia juga baru datang dari Indonesia. Saat itu dia dan rombongan datang di jamuan, namun oleh salah satu stafnya dihentikan karena PM Naoto Kan sedang menerima Presiden Medvedev dari Rusia. Beliau akhirnya menunggu di tempat yang tak jauh dari tempat kami duduk-duduk.

Sesuai peraturan dan kebiasaan internasional, seorang duta negara belum diakui secara resmi sebagai duta negara sebelum menyerahkan surat kepercayaan atau credentials kepala negaranya ke kepala negara tempat dia ditugaskan. Oleh karena itu, agar Papi segera diakui sebagai duta republik, beliau harus segera menyerahkan credentials kepada Kaisar Akihito sebagai simbol negara Jepang. Ada sedikit kisah yang mendahului upacara tersebut. Beberapa hari sebelum upacara, pejabat Kunaicho atau Rumahtangga Kekaisaran menginfokan bahwa Kaisar pada tanggal 22 November 2010 berkenan menerima Papi untuk menyerahkan credentials. Karena sesuatu dan lain hal, Papi tampak enggan mengikuti acara itu, dan sekretaris Papi juga bingung untuk mengaturnya. Setelah terjadi lempar melempar tanggung jawab, akhirnya pak Jab, kepala bagianku meminta agar aku mengatur upacara itu. Tanpa mengetahui keengganan Papi dan kegegeran yang timbul, aku mengiyakan saja pengaturan waktu dan tata cara pelaksanaan upacara penyerahan credentials itu. Pada hari H, Papi tampak murka demi mengetahui aku sudah mengatur upacara itu, walau pada akhirnya beliau berangkat ke Istana untuk ikut upacara. Acara penyerahan credentials berjalan sukses, walau aku didiamkan Papi selama lebih dari tiga bulan sebagai akibatnya.

Tahun 2010 ditutup dengan kunjungan Ketua Fraksi Partai pemerintah terbesar pada akhir Desember 2010. Beliau datang dalam rangka jalan-jalan saja, namun karena keanggotaannya di DPR, pos Tokyo terpaksa ikut mengurusnya. Kebetulan beliau tergabung di komisi yang membidangi pertanian dan kehutanan. Oleh karena itu Kepala bidang pertanian yang menggantikan pak Puj yakni Pak Wid dan bu Sri, kepala bagian kehutanan mengurus beliau setelah beliau dan keluarga kami kawal dari depan pintu pesawat.

Mengawali tahun 2011, kami kedatangan tamu yakni Menhan dan rombongan termasuk pak Madi, mantan duta republik di Tokyo dalam rangka Defense Ministerial Dialogue dan penyerahan patung PETA, pertengahan Januari 2011.

Mengawali tahun ini pula, personil di bagianku berkurang setelah pak Jab dan pak Ad kembali ke Jakarta. Pengganti pak Jab yaitu pak Mar datang pada akhir tahun 2010, tapi Papi sementara menugaskan beliau di bagian politik, sementara pak Ad yang karena suatu kasus di kementerian kembali ke Jakarta sekitar bulan Juni 2010. Pengganti pak Ad adalah pak Jo, yang sebelumnya bertugas di pos Pyongyang.

Pada awal Februari 2011 Menlu RI juga datang dalam rangka pertemuan bilateral dengan Menlu Jepang. Pemilihan waktu pertemuan itupun selalu on-off. Papi yang sedikit bete karena maju-mundurnya jadwal, tidak menjemput Menlu di bandara sebagaimana lazimnya di pos lain. Namun, pada akhirnya kedua pimpinanku itu bertemu dan suasana semakin mencair.

Pada pertengahan Februari 2010, aku menjemput rombongan DPD RI yang akan mengikuti pelatihan di JICA. Sewaktu mengantri di Imigrasi, aku lihat mereka menggunakan paspor dinas, oleh karena itu, aku arahkan mereka ke pintu khusus untuk dinas dan diplomatik. Namun karena visanya sebagai trainee, petugas Imigrasi meminta agar rombongan mengantri ke pintu biasa. Setelah saling ngotot, akhirnya mereka memperoleh cap masuk. Di perjalanan menuju Tokyo, seorang ibu anggota DPD menanyakan apakah ada TKW yang bekerja di Jepang. Aku jelaskan bahwa Jepang menutup pasar tenaga kerjanya. Beliau ngotot agar pos Tokyo membuka pasar TKW di Jepang, aku jawab bahwa pos Tokyo tidak bisa mempengaruhi proses legislasi nasional Jepang dan selama ini kementerian dan perwakilan republik di luar negeri selalu jadi sorotan dan tidak ada satu lembaga baik eksekutif maupun legislatif yang membela kita ketika terjadi kasus yang mengakibatkan WNI di luar negeri menjadi korban.

Seperti yang dituliskan sebelumnya, pos Tokyo memiliki fasilitas dengan hak milik berupa gedung kantor, wisma duta, wisma staf dan balai merangkap Sekolah RI Tokyo. Dari awal pembangunan gedung kantor, ruangan duta republik di tempatkan di lantai tujuh. Namun, mungkin dengan pertimbangan khusus, Papi mengundang ahli fengshui untuk datang dan mengecek aliran chi di gedung pos Tokyo. Aku sering berkoordinasi dengan Konjen Jepang di Surabaya untuk mengurus visa ahli fengshui yang berasal dari kota itu. Sang ahli datang pada bulan Maret dan Juni 2011. Dan sesuai dengan saran sang ahli fengshui, Papi memindahkan ruangannya dari lantai tujuh ke lantai tiga.

Wisma dutapun tidak luput dari objek perubahan Papi. Sejak kedatangannya, Papi tinggal hotel Ritz Carlton dan apartemen mewah Oakwood Residence. Papi tinggal selama hampir 9 bulan di kedua tempat mewah itu. Sementara itu wisma duta diperbaiki atas biaya pribadi Papi. Untuk meringankan biaya, Papi mengundang desainer interior dan para tukang dari Indonesia pada akhir Mei dan awal Juni 2011. Aku membantu memfasilitasi visa para tukang itu.

Mantan Wapres pak JK datang kembali ke Tokyo sebagai ketua PMI untuk mempererat hubungan antara PMI dengan Palang Merah Jepang pada awal Maret 2011. Sebagai mentor politik Papi, beliau diperlakukan khusus, seperti penyediaan sedan dan van khusus untuk beliau dan rombongan. Beliau kebetulan masih berada di Tokyo saat Gempa dan Tsunami 11 Maret 2011 terjadi, beliau pula yang memberi arahan kepada Papi dan kita semua bagaimana bertindak menghadapi bencana besar seperti ini. Beliau kembali Jakarta dua hari setelah gempa karena lumpuhnya sarana transportasi di Tokyo.

Menyusul terjadinya tanggap darurat Gempa dan Tsunami 2011, kementerian memutuskan untuk mengirim Tim asistensi bencana yang dikepalai pak Jup, mantan atasan di Jakarta datang tiga hari setelah bencana dan tim pengganti datang beserta tim Basarnas RI pada awal April 2011.

Bencana dahsyat di wilayah Jepang Timur telah mengakibatkan lebih dari 18.500 orang tewas dan hilang. Para pemimpin negara sahabat Jepang juga datang untuk memberikan bantuan dan menyampaikan bela sungkawa. Presiden RI termasuk salah satu pemimpin negara pertama yang mengunjungi daerah bencara tsunami pada pertengahan Juni 2011. Aku tergabung dalam panitia penyambutan rombongan RI1. Kisah lengkap bencana akan aku ceritakan di tulisan lain.

Seperti halnya tahun 2010, pada awal Juli 2011 pos Tokyo kembali mengadakan Festival Indonesia. Mulanya Papi ragu untuk menyelenggarakan kegiatan ini mengingat Jepang masih dalam keadaan berduka akibat bencana. Namun Gaimusho menyarankan kami untuk tetap menyelenggarakan festival untuk menyemangati proses rekonstruksi Jepang. Sebagai anggota tim penjemput, aku memfasilitasi Tim Seni Kembudpar dan artis undangan yaitu Rio Febrian dan the Changchuter untuk tampil pada Festival Indonesia.

Festival Indonesia 2011 di Taman Yoyogi dimeriahkan oleh the Changchuter

Festival Indonesia 2011 di Taman Yoyogi dimeriahkan oleh the Changchuter

Selama lebih dari setahun aku juga melaksanakan tugas perlindungan dan pelayanan warga di Jepang. Berikut catatan kasus perlindungan dan pelayanan.

Sekitar bulan Mei- Juli 2010, aku menangani kasus WNI berinisial BM. Dia ditahan di Kantor Imigrasi Nagoya karena terlibat kecelakaan dan overstayer. BM sendiri sudah dibuatkan SPLP dan sedang menunggu pembayaran uang asuransi, namun pengacaranya tampak enggan mengurus. BM pertama kali masuk ke Jepang sebagai pemagang di lembaga IM Japan, lalu masuk lagi dengan menggunakan identitas aspal. BM ditangkap tapi melarikan diri dan ditabrak mobil dalam proses melarikan diri tersebut. Kami mengontak pengacara BM, sang pengacara berkilah bahwa pencairan uang asuransi sedang dalam proses, dan berjanji akan memberitahukan apabila seluruh prosesnya telah selesai. Kasus BM selesai setelah uang asuransi cair dan dia dideportasi dari Jepang pada bulan Juli 2010.

Dalam kasus lain, aku menerima pengaduan MW perawat Indonesia yang datang dengan skema IJEPA gelombang II dan bekerja di sebuah rumah sakit di Prefektur Akita. MW mengadu karena diperlakukan tidak sopan oleh direktur kliniknya. Aku bekerjasama dengan bagian ekonomi memediasi kasus MW dengan JICWELS, lembaga penyalur perawat/caregiver Indonesia di Jepang. Sesuai permintaan, MW pulang akhir April 2010.

Dalam dunia pergaulan antarbangsa, terdapat sebuah kesepakatan atau konvensi pengaturan pengiriman staf diplomatik di sebuah negara. Salah satu prinsip yang diatur dalam konvensi itu adalah prinsip extrateritorial yang menyatakan bahwa staf diplomatik kebal terhadap hukum setempat. Namun di sisi lain, negara tuan rumah berhak mengusir staf diplomatik yang dinilai mencampuri urusan dalam negeri atau melanggar hukum berat di negara tersebut. Selama menjalankan tugas di pos Tokyo, terkadang aku menerima nota teguran dari Gaimusho atas perilaku di luar batas kewajaran bagi staf diplomatik terutama saat mengemudi kendaraan diplomatik. Ketika menerima nota ini, aku sering datang ke Protocol Office dan menemui Morimoto-san, petugas seksi Indonesia yang pernah bertugas di Surabaya untuk sekedar mengucapkan (mooshi wake arimasen ne Morimoto-san [maaf ya Morimoto-san]).

Pasca penetapan dan peresmian Satgas Pelayanan Warga di pos Tokyo, bagianku sebagai bagian koordinator melakukan pembenahan sistem informasi manajemen pelayanan pada Agustus 2010. Kegiatan ini mencakup pemutakhiran data, penyeragaman prosedur dan formulir serta pembuatan layanan online. Hasil pembenahan ini masih dipakai di laman pos Tokyo sampai saat tulisan ini dibuat.

Dalam hubungan antar negara, pemberian bintang jasa kepada tokoh negara sahabat yang berjasa mempererat hubungan kedua bangsa adalah hal yang wajar. Pada akhir bulan November 2010, Papi meminta kami untuk membuat nota Pengusulan Penganugerahan Bintang Jasa RI kepada Mr. Yasuo Fukuda, mantan Perdana Menteri Jepang tahun 2007-2008 ke Pusat. Akhirnya Presiden RI menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana kepada Fukuda Sensei atas jasanya mempererat hubungan kedua negara pada bulan November 2011.

Sesuai Konvensi Wina mengenai hubungan konsuler, kami juga bertugas untuk mengirimkan berkas panggilan sidang dan keputusan pengadilan Indonesia kepada badan hukum dan warga negara Jepang. Walaupun efek pemanggilan tersebut tidak begitu terasa karena minimnya tanggapan dari WN atau badan hukum Jepang terhadap panggilan tersebut, dalam setahun rata-rata kami mengirimkan 35-40 berkas panggilan.

Memasuki tahun 2011, kami menangani kasus meninggalnya S, seorang pemagang IMM dari Indonesia pada pertengahan Januari 2011. S ditemukan rekan-rekannya dalam keadaan tidak sadar. Diduga S yang seminggu kemudian seharusnya kembali ke Indonesia jatuh dari lantai dua dan kepalanya menghantam mesin cuci. Kami berkoordinasi dengan lembaga pengirim yakni IM Japan untuk memastikan hak-hak almarhum.

Pada akhir Januari 2011, aku menerima pengaduan KDRT dari seorang WNI. AnaknyaYul yang menikah dengan orang Jepang diperlakukan kasar oleh suaminya. Setelah berkoordinasi dengan kepolisian Prefektur Fukushima dan Women Center Fukushima, tepat dua hari sebelum Gempa Tohoku, aku mengunjungi Yul untuk wawancara. Kami juga membantu membuatkan Yul paspor baru, mengingat paspornya sudah kurang lebih tiga tahun kadaluarsa. Yul dan keluarganya termasuk WNI yang dievakuasi dari wilayah bencana dan ditampung di balai Indonesia selama masa tanggap darurat bencana. Singkat cerita, Yul kembali ke Jakarta sekitar bulan Juli 2011.

Kami juga menerima berita penangkapan seorang WNI bernama TB karena dugaan operasi bank gelap pada awal Februari 2011. TB tadinya masuk ke Jepang sebagai pemagang. Lalu dia kembali sebagai pelajar sekolah bahasa Jepang. Aku menduga TB belajar lika-liku operasi bank gelap selama dia magang di Jepang. Ketika ditangkap, TB mengaku nilai total jasanya mencapai sekitar tigapuluh juta yen atau setara tiga milyar rupiah. Satu hal yang agak merepotkan kami, polisi Jepang menginfokan bahwa beberapa staf di balai Indonesia pernah menggunakan jasa TB untuk mengirim uang, dan polisi sedang mengawasi kegiatan mereka. Setelah menjalani rangkaian penyelidikan dan persidangan Pengadilan Wilayah Shizuoka telah menjatuhkan hukuman deportasi bagi TB.

Setelah disibukkan dengan penanganan bencana Gempa Tohoku, aku menerima permohonan bantuan untuk mencari saudara SW, seorang WNI yang tinggal di Jepang pada awal Mei 2011. SW yang bertahun-tahun tinggal bersama suaminya yang WN Jepang ini kehilangan kontak ke keluarga besarnya. Celakanya lagi, SW hanya memiliki informasi terbatas mengenai keberadaan keluarganya. Alamat yang diberikanpun sudah ditempati orang yang bukan keluarganya. Hingga saat tulisan ini dibuat, rekan-rekan di pos Tokyo masih mencari keberadaan keluarga SW.

Setelah beberapa waktu, aku kembali menangani kasus yang melibatkan perawat Indonesia. Mel adalah perawat IJEPA gelombang I yang bekerja pada sebuah rumah sakit di Prefektur Gifu. Pada pertengahan April 2011 Mel diberhentikan secara mendadak. Mel kemudian mengadukan masalah ini ke Biro Pekerja Gifu dan ke bagian perlindungan dan pelayanan pos Tokyo. Aku berkoordinasi dengan bagian ekonomi memediasi masalah Mel dengan pihak rumah sakit dan JICWELS sebagai lembaga penyalur perawat/caregiver Indonesia di Jepang. Mel akhirnya memperoleh kompensasi dan kembali ke Indonesia bulan Mei 2011.

Di sela-sela kesibukanku, aku menerima berita yang menyenangkan. Per Januari 2011 Angka Dasar Tunjangan kehidupan Luar Negeri (ADTLN) pos Tokyo naik sebesar limaratus dolar AS. Hal ini berarti pendapatan seluruh staf pos Tokyo meningkat dan menambah semangat kami menjalani hari-hari sibuk di ibukota negara Matahari Terbit ini…. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s