Balada Caraka Kelana (12): Hidup di Jepang; Refleksi, Tips dan Trik

…sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan wanita, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal…. (Q. S. 49: 13)

Dari penggalan ayat al-Qur’an di atas, dapat kita maklumi bahwa perbedaan diantara umat manusia, tidak peduli apapun warna kulit, ciri fisik bahkan hingga keyakinan adalah sebuah hukum Tuhan. Perbedaan antara kita tidak berarti kita asing satu dengan yang lain, bahkan Tuhan justru memerintahkan kita untuk saling mengenal. Kali pertama aku berkenalan dengan Jepang terjadi ketika aku “terjerumus” di jurusan Sastra Jepang, Fakultas Sastra (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Gadjah Mada. Dalam kuliah, selain materi keterampilan bahasa, aku juga menerima materi budaya dan sejarah masyarakat Jepang. Berdasar materi itu, aku mulai menyadari bahwa orang Jepang sebenarnya “nJawani” memiliki unggah-ungguh, rasa dan basa yang mirip orang Jawa, bahkan “kekejaman” orang Jepang juga sama seperti “kekejaman” orang Jawa (hayo siapa bilang orang Jawa tidak kejam, coba lihat kisah Babad Tanah Jawa hingga kisah Orde Baru, dimana seorang penguasa yang kalah akan dihabisi –tumpes-tapis- hingga simpanan, anak haram, bahkan simpatisannya demi menghindarkan balas dendam).

Ketika aku pertama kali datang ke Jepang tahun 2005, aku mempraktekkan hal-hal yang aku pelajari di bangku kuliah seperti mengucapkan terima kasih sambil membungkuk (ojigi), duduk bersimpuh (seiza) yang membuat kaki kesemutan atau sekedar mengucapkan salam khas Jepang yang susah diterjemahkan ke bahasa Indonesia atau bahasa Jawa seperti otsukaresama, itterashai, ittekimasu, tadaima, okaeri.

Setelah ditugaskan ke Jepang selama beberapa tahun, aku mulai melihat beberapa sifat yang membuat Jepang menjadi negara yang terasa nyaman untuk tinggal, sepanjang kita mengikuti rule-of-the-game masyarakat Jepang. Dalam tulisan berikut aku mencoba merefleksikan beberapa sifat unggul bangsa Jepang yang telah aku coba amati sebagai hikmah penugasan di Jepang.

Sifat unggulan pertama adalah disiplin, sifat ini menurunkan derivatifnya yaitu tepat waktu dan kemauan untuk antri. Kedisiplinan mereka sudah dimulai dari kecil. Dari pengalaman seorang teman yang memiliki anak balita dan disekolahkan di hoikuen (pra-TK), anak-anak dibiasakan untuk membereskan mainan sendiri, makan dan minum di tempat yang ditentukan, bahkan saat berjalan-jalan mereka diwajibkan saling bergandeng tangan dan memperhatikan rambu lalu lintas bahkan ketika jalan kaki sekalipun.

Pengalaman lain aku dengar dari salah satu pejabat yang berasal dari salah satu kementerian di bilangan Medan Merdeka Barat. Beliau ditempatkan di pusat kerjasama ASEAN – Jepang. Beliau bercerita betapa ketepatan waktu sangat dihargai, di hari-hari awal kedatangan beliau, saat akan berangkat ke kantor beliau selalu ditelpon untuk memastikan waktu kedatangan dan jalan yang ditempuh. Stafnya mungkin khawatir sang bapak tersesat atau -mereka tahu sifat “jam karet” bangsa kita- sang bapak ngeles berangkat ke kantor.

Selain itu, di jalan-jalan terutama pada waktu mendekati jam kantor hampir semua orang bergegas dan berlari-lari, dari mas-mas berjas hitam dan hem putih, mbak-mbak dengan rok mini dan high heels, kakek-kakek bertopi dan bersweater hingga nenek-nenek yang masih lincah dalam balutan busana konservatifnya. Mereka tidak peduli apakah hari hujan atau bersalju, atau pada saat musim panas ketika matahari jam 09:00 pagi terasa seperti matahari jam 11:00 siang. Semua orang bergegas dan berjalan dengan cepat. Saking cepatnya orang Jepang berjalan, apabila kita melihat iklan rumah yang dituliskan berjarak 3 menit jalan kaki dari stasiun terdekat, maka jika orang Indonesia yang mencobanya jarak itu menjadi 5 menit jalan kaki!

Kemauan untuk antri juga terlihat di mana-mana, dari awal hingga akhir siklus hidup harian orang Jepang diwarnai dengan antri. Pagi ketika berangkat ke kantor, mereka antri masuk kereta yang menjadi alat transportasi andalan, saat akan makan siang, saat akan membayar di bank, atau saat akan pulang naik kereta, bahkan ketika kuil Hachiman Meguro Ekimae dekat kantor mengadakan Sanma Matsuri (festival ikan mackerel) dimana pihak panitia membagi-bagi ikan mackerel panggang, panjang antrian orang mencapai 3,5 kilometer! Semua orang antri. Kadang apabila sebuah toko akan meluncurkan produk baru, orang-orang sudah antri dan menginap sejak sehari sebelum peluncuran. Satu hal yang membuatku berdecak adalah tidak ada orang yang mencoba menyalip di antrian, tidak seperti jika kita antri akan masuk busway Jakarta.

Antrian panjang adalah pemandangan yang biasa

Antrian panjang adalah pemandangan yang biasa

Seperti yang telah aku tuliskan di atas, budaya Jepang mengenal unggah-ungguh, rasa dan basa mirip budaya Jawa, artinya budaya ini sangat membedakan hierarki sosial pendukung budayanya. Sebagaimana bahasa Jawa yang mengenal ragam bahasa sopan (krama) dan ragam biasa (ngoko), bahasa Jepangpun mengenal ragam bahasa biasa dan ragam bahasa sopan (keigo) yang terbagi menjadi tiga bentuk yakni sonkei (menghormati lawan bicara), kenjo (merendahkan diri) dan teinei (bentuk sopan). Dengan adanya ragam biasa dan ragam sopan dalam berbahasa, aku hipotesiskan mereka biasa menilai dan menggunakan bahasa sesuai dengan korelasi sosialnya, artinya mereka akan berbahasa sopan dan hormat kepada orang yang memang pantas dihormati.

Berdasar hipotesis ngawur di atas, aku melihat bahwa sifat unggulan kedua adalah hormat. Rasa hormat ini menurunkan derivasi sopan santun dan adab berperilaku atau dalam bahasa Jawa unggah-ungguh. Adab berbicara dan sopan santun ini sangat terasa apabila kita berbelanja. Saat kita masuk toko atau restoran, para pelayan akan berteriak “irrasshaimase” yang artinya mirip dengan “selamat datang”, dan saat kita melihat-lihat, para pelayan toko juga tetap berteriak-teriak “doozo goran kudasai” yang kira-kira artinya “silakan dilihat”. Saat kita membutuhkan sesuatu, bertanya atau memesan barang, mereka juga akan melayani kita dengan wajah yang sumringah dan senyum, tak jarang mereka akan menjelaskan barang dagangannya dalam bahasa Jepang walaupun mereka tahu kita bukan orang Jepang yang berbahasa Jepang. Para pelayan juga akan sama-sama berteriak “arigato gozaimasu” yang artinya “terima kasih” saat kita meninggalkan toko atau restoran, baik kita membeli sesuatu atau hanya sekedar melihat-lihat saja.

Membungkuk atau ojigi menjadi kebiasaan di hampir setiap kesempatan

Membungkuk atau ojigi menjadi kebiasaan di hampir setiap kesempatan

Sopan-santun seperti saling mengucap salam juga masih bertahan di apartemen. Sama halnya di kota-kota lain, orang-orang acuh tak acuh satu dengan yang lain di jalanan, tapi ketika bertemu di apartemen, mereka tetap saling mengucap salam. Dalam pengalamanku, tetangga-tetanggaku akan mengucap salam walau sekedap ucapan “ohayo” atau “[selamat]pagi” saat pagi hari bertemu atau “oyasumi” yang berarti “selamat beristirahat” ketika malam hari ketemu di lift.

Sifat utama ketiga adalah solidaritas antar sesama orang Jepang. Sifat ini memang tidak asing bagi orang Jepang, sesuai dengan dua konsep sosial Jepang yaitu “patron-client relationship” antara “oyabun” atau tetua dan “kobun” atau anak. Dalam konsep ini -mirip dengan konsep Jawa “manunggaling kawula-gusti”- seorang oyabun harus bisa mengayomi dan berlaku adil terhadap semua kobun; dan dibalas dengan loyalitas dan pengorbanan kobun baik untuk oyabun atau untuk kelompok secara keseluruhan. Konsep kedua disebut “soto-uchi” yang diterjemahkan bebas menjadi “outer-inner relationship”. Konsep ini mengelompokkan individu-individu ke dalam kelompok “soto” atau “luar” yang disifati asing dan “mengancam” dan kelompok “uchi” atau dalam yang disifati dekat dan membantu. Apabila seseorang sudah dianggap sebagai bagian dari inner atau uchi maka dia harus menunjukan loyalitas dan mau berkorban untuk kepentingan kelompok “uchi”-nya.

Sifat solider ini menurunkan sifat kohesif dan tertutup. Sifat kohesif bermakna bahwa orang Jepang seolah-olah memiliki satu pikiran yang sama. Mereka menganggap bahwa mereka setara, kecuali bagi sedikit anggota masyarakat yang memang dianggap “erai” atau istimewa seperti pejabat tinggi pemerintah atau pemilik perusahaan “shacho”. Karena perasaan setara ini, masyarakat sangat mudah diarahkan oleh para pemimpinnya. Hal ini terlihat ketika Gempa dan Tsunami 2011 melanda. Para pengungsi gempa dengan sabar dan teratur datang ke tempat pengungsian sementara, menunggu arahan petugas dan menerima bantuan dengan sangat teratur dan apabila mereka menerima bantuan lebih, mereka akan berikan kepada sesama pengungsi yang belum memperoleh bantuan. Keadaan bertolak belakang dengan pengungsi banjir Jakarta bulan Januari 2013 kemarin, dimana mereka saling menyikut dan berebut sekedar mie instan.

Sifat tertutup bermakna mereka tidak dengan mudah terseret dengan pengaruh luar kecuali tentu saja pengaruh dari Amerika Serikat. Menurut pengalamanku, secara umum sulit bagi kita -orang luar- untuk bisa langsung akrab dengan orang Jepang. Mereka pertama akan menakar dan mengukur keperluan untuk “dekat” dengan orang asing. Apabila kita bisa masuk ke “uchi” maka mereka akan loyal dan bersedia berkorban untuk kita.

Kohesifitas sosial Jepang membuat kota-kota di Jepang terlihat bersih, tertib dan teratur. Apabila kita jalan-jalan di Tokyo, jarang atau bisa dikatakan tidak ada tempat sampah tersedia di jalan-jalan, namun Tokyo terlihat bersih dan asri walau sesekali kita bisa temukan sampah tercecer. Semua orang dengan disiplin menyimpan sampah yang dia bersih dan dia percaya bahwa orang lain juga melakukan hal yang sama dan apabila ada orang yang melanggar kesepakatan tidak tertulis mengenai kebersihan dan keteraturan seperti orang yang buang sampah sembarangan atau menyerobot antrian, dia tidak akan ditegur, melainkan akan ditatap orang banyak dan dijauhi.

Suasana yang rapi dan teratur di sebuah pasar tradisional Tokyo

Suasana yang rapi dan teratur di sebuah pasar tradisional Tokyo

Sifat unggulan keempat yang aku amati adalah ulet. Sifat ini berhubungan erat dengan keadaan alam Jepang, dimana landskap Jepang yang bergunung-gunung dan hanya 11% dari seluruh daratan Jepang yang bisa ditanami serta letak geografisnya di daerah empat musim sehingga membuat orang Jepang berpikir panjang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di zaman dulu -bahkan hingga sekarang- para petani Jepang sudah terbiasa bercocok tanam di musim semi hingga awal musim gugur, dan menyimpan hasil tanamannya untuk keperluan makan musim gugur dan musim dingin. Di antara orang Jepang sendiri, menurut cerita pak Kato seorang Indonesianis di Gaimusho, mereka yang hidup di Utara (Tohoku dan Hokkaido) terkenal lebih ulet daripada yang hidup di Selatan.

Sebagai ilustrasi, suatu hari aku melihat berita mengenai seorang ibu yang rumahnya terkena angin puting beliung, kebetulan si ibu adalah pengungsi dari Fukushima yang terkena dampak tsunami dan nuklir. Sambil berurai air mata ibu itu hanya berkata,” Korekara ganbari shika arimasenne [mulai sekarang saya hanya bisa berusaha]”, tanpa menyalahkan, tanpa menghiba bantuan pemerintah.

Sifat ulet ini menurunkan derivasi sifat adaptif dan kreatif. Adaptasi dan kreatifitas orang Jepang sudah banyak buktinya. Berbagai teknologi yang praktis seperti walkman, karaoke, alat-alat elektronik hingga produk kreatif seperti manga, anime dan J-pop yang menjadi salah satu kiblat budaya dunia.

Keempat sifat unggul ini -disiplin, hormat, solider, dan ulet- yang harus kita tiru dari masyarakat Jepang dan insyaallah Indonesia akan semaju Jepang.

Tips dan Trik Hidup di Tokyo

Dalam situsnya, CNN menurunkan berita bahwa dua kota utama Jepang yakni Tokyo dan Osaka adalah kota termahal di dunia. Namun berikut aku bagikan beberapa tips dan trik untuk “circumnavigate the storm of expensive cost of living” di Tokyo. Satu hal yang pasti, tempat tinggal di Tokyo sangat mahal. Kisaran harga sewa tempat tinggal di tengah kota -Chiyoda, Minato, Shinagawa, Shibuya, Shinjuku, Koto, dan Chuo- bisa mencapai 10.000 – 20.000 yen atau 1.000.000 – 2.000.000 rupiah/ meter persegi/ bulan, namun banyak hal yang bisa kita beli dengan harga miring bahkan gratis.

  • Hal pertama bagi kita yang hidup di negara asing adalah selalu cek masa berlaku dokumen kependudukan dan keimigrasian. Tandai di kalender anda tanggal kadaluarsa paspor; kartu identitas; izin masuk, tinggal dan masuk kembali atau lazim disebut visa dan dokumen identitas lain yang Anda perlukan selama tinggal di luar negeri. Sebagai catatan, jika Anda ingin melakukan perjalanan antar negara, masa berlaku paspor anda sesuai ketentuan ICAO harus lebih dari atau sama dengan enam bulan. Kealpaan kita untuk mengecek batas waktu dokumen-dokumen tersebut bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti denda administrasi atau kemungkinan terburuk adalah dideportasi atau dipulangkan paksa.
  • Kedua, carilah tempat tinggal yang sesuai kebutuhan dan kantong. Dalam kasusku, karena kami masih berdua, aku memilih apartemen dekat kantor seharga 257.500 yen/bulan dengan luas sekitar 55 meter persegi. Apabila ingin tempat tinggal yang relatif lebih murah, luas dan representatif, carilah tempat tinggal yang berada di wilayah ke arah luar kota. Untuk mengurangi beban ongkos transportasi daftarkan nama anda dan trayek perjalanan dari rumah ke tempat kerja atau kuliah ke perusahaan transportasi -bisa perusahaan bis atau kereta- untuk memperoleh kartu langganan kereta atau disebut teikiken [定期券]. Bagi penglaju (commuter) potongan harga teikiken bisa mencapai 30% dibanding harga biasa.
  • Tips ketiga terkait dengan pemenuhan kebutuhan. Walau dikatakan mahal, namun tidak semua barang-barang di Tokyo mahal. Istriku malah membandingkan harga beberapa barang seperti pakaian, alas kaki, peralatan dapur dan rumah tangga, perlengkapan kamar mandi, perkakas pertukangan jauh lebih murah dari harganya di Jakarta. Kuncinya adalah kita harus rajin mencari tempat belanja yang menawarkan diskon, atau belanjalah pada saat weekend karena toko-toko di Tokyo selalu menawarkan potongan harga di hari-hari libur tersebut, selain itu carilah toko cepek (100 yen shop) yang didalamnya akan anda temui berbagai alat rumah tangga dan bahan makan yang harganya miring yakni 105 yen per item. Selain itu aku sarankan untuk mengecek keberadaan toko barang bekas pakai (recycle shop) di sekitar anda seperti Hard-Off atau Book-off dimana anda bisa memperoleh barang yang masih bersegel utuh dengan harga setengah atau bahkan seperempat dari harga di toko orisinalnya.
  • Tips keempat adalah menahan diri, sebab ketika anda telah menemukan tempat yang murah, anda bisa terkena sindrom “gila belanja”. Selain itu, jangan mudah mengikuti ajakan teman untuk melakukan perbuatan yang bisa dikategorikan “jahil dan usil” seperti naik kereta tanpa bayar, atau mengakali vending machine sebab Tokyo adalah kota CCTV, dimana di setiap sudut jalan terdapat CCTV yang memonitor potensi kejahatan sampai sekecil apapun.

Untuk flyer mengenai petunjuk praktis hidup di Jepang silakan unduh di sini.

Demikianlah, telah aku kisahkan penugasanku di Negeri Matahari Terbit. Semoga kisah ini bisa menjadi hikmah yang menginspirasikan kita semua untuk bergerak ke masa depan yang lebih baik dengan menggunakan negara Jepang sebagai “kaca benggala” dimana yang jelek dari Jepang kita tolak dan yang baik dari Jepang kita tiru. Dengan berakhirnya tulisan ini, serial Caraka Kelana aku akhiri sampai di sini, terima kasih aku sampaikan kepada sidang pembaca yang sudi menyisihkan sedikit waktunya untuk membaca tulisan kecil ini, semoga kita bertemu di kisah penugasan di negara lainnya. (Tamat)

One response to “Balada Caraka Kelana (12): Hidup di Jepang; Refleksi, Tips dan Trik

  1. cukup pantas klo jepang maju pesat setalh di guncang bom… dengan masyarakat nya yg disiplin ulet dan pekerja keras… smoga ini bisa menjadi virus orang indonesia mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s