Guang Zhou, Mutiara dari Selatan Tiongkok

Pagi di bulan Desember itu, cuaca Jakarta dan sekitarnya cukup cerah, namun sekumpulan mendung terlihat menggantung di cakrawala utara. Mendung itu cukup membuatku khawatir, karena pagi itu, aku dijadwalkan untuk terbang ke arah utara, ke negeri yang disebut dalam hadist nabi “Uthlubul ‘ilmi walau bi Shin” yakni negeri tirai bambu alias Republik Rakyat Tiongkok.

Perjalanan kami memakan waktu sekitar 5 jam, dan sesuai dengan prediksiku, penerbangan itu diwarnai guncangan ringan di atas pulau Kalimantan karena melewati awan-awan yang menggantung. Setelah melewati kumpulan awan, penerbangan berjalan dengan normal. Hari itu, karena kami tidak memperoleh tiket maskapai penerbangan nasional, kami menumpang pesawat Southern China Airline, dengan pelayanan khas maskapai yaitu pramugari/gara yang bermuka lempeng dan seringkali salah memberi pesanan, sebagai contoh, ketika aku memilih nasi untuk makan siang malah diberi mie, dan ketika rekan kerjaku meminta air atau jus jeruk tanpa es, si pramugari dengan cueknya menuang es banyak-banyak.

Setelah sajian makanan, film, buku dan majalah telah habis dikonsumsi untuk menghilangkan rasa bosan, akhirnya kami tiba di Baiyun International Airport Guang Zhou (dibaca Kuang Chou) sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Ketibaan disambut dengan kabut (entah kabut atau asap) yang bisa dikatakan tebal, dan suhu udara yang cukup sejuk sekitar 20 derajat C. Ketika kami antri di Imigrasi, kami disapa oleh seseorang yang ternyata staf perwakilan republik di Guang Zhou yang akrab dipanggil pak Komeng. Dia mengarahkan kami ke pintu masuk khusus bagi jenis paspor yang kami pakai. Tak lama kemudian, kami diantar ke mobil dan selanjutnya diangkut menuju kantor perwakilan republik di Guang Zhou.

Canton Tower, Huaxia Central Business District, Beijing Lu, Guang Zhou Olympic Stadium

Canton Tower, Huaxia Central Business District, Beijing Lu, Guang Zhou Olympic Stadium

Kota yang terletak di selatan Republik Rakyat Tiongkok ini memiliki luas sekitar 20.000 km persegi dengan penduduk sekitar 12,8 juta orang. Tapi menurut pak Komeng, Guang Zhou besarnya 10 kali kota Jakarta dengan penduduk kurang lebih 100 juta orang, namun sepertinya data itu merupakan data untuk propinsi Guang Dong (dibaca Kuang Tung), dimana Guang Zhou sebagai ibukotanya.

Guang Zhou (广州 dalam aksara Tiongkok Sederhana dan 廣州 dalam aksara Tiongkok Klasik) konon telah berdiri beberapa ratus tahun sebelum Masehi, kota ini merupakan ibukota kerajaan Nanyue dan menjadi pusat pemerintahan propinsi Guang Dong sejak abad pertama Masehi. Para pedagang dari negara superpower Dunia Lama seperti Persia, Arab, India bahkan mungkin dari Nusantara telah bermukim di kota yang terletak di delta Sungai Mutiara ini sejak abad VIII Masehi.

Kita bisa melihat perkembangan kota Guang Zhou di Jalan Beijing (atau Beijing Lu) dimana di jalan tersebut terdapat beberapa tempat yang digali dan dilindungi kaca. Di tempat itu dapat disaksikan bentuk Jalan Beijing sejak zaman dinasti Song pada abad IX Masehi, dinasti Ming, Dinasti Yuan dan Dinasti Qing di awal abad XX. Selain itu, ketika mampir di Metro Mall, tak sengaja aku melihat papan bahwa tempat tersebut terdapat situs peninggalan Kerajaan Nanyue (南城国) berupa bekas bendungan air dari kayu.

Kesan pertama ketika aku menginjakkan kaki di Guang Zhou adalah kemegahan. Memang Republik Rakyat Tiongkok (sesuai dengan Keppres nomor 12 tahun 2014 nama China diganti dengan Tiongkok, orang China diganti orang Tionghoa) saat ini sedang giat membangun sehingga tak heran kota-kota di Tiongkok terkesan begitu megah. Apabila anda menginjakan kaki di Beijing, dijamin anda akan terpukau dengan kemegahan Beijing Capital International Airport dan juga antrian imigrasinya. Ketika anda melewati jalan akses ke dan dari bandar udara ke kota, kemegahan tersebut makin terlihat dimana jaringan jalan tol -tidak seperti tol Wiyoto Wiyono atau Soedyatmo yang banjir jika hujan- sangat nyaman dan lega.

Namun, ketika anda memasuki kota, kemegahan “etalase” kota-kota besar akan digantikan dengan kesemrawutan lalu lintas dan kekumuhan lingkungan. Hal ini diperparah dengan perilaku penduduk yang jorok -tidak jauh beda dengan kondisi Jakarta-, dimana sampah bertebaran, gulungan dan galian kabel dimana-mana dan pedagang kaki lima yang mengokupasi trotoar, walaupun tidak seperti Jakarta yang sampai meluber ke jalan. Kondisi semrawut ini juga aku lihat di Guang Zhou, dimana mobil berseliweran tanpa mau memberikan kesempatan kepada orang lain, sebagai contoh ketika akan berbelok dan lampu sign dinyalakan, orang-orang bukannya memberi jalan namun malah memacu kecepatan. Satu hal yang membuatku terpana adalah ketika mereka dengan seenaknya berhenti di tengah jalan tol untuk menerima telepon dan membuat antrian kendaraan yang lumayan panjang.

Kontras antara bangunan modern dan indah dengan kawasan kumuh di Guang Zhou

Kontras antara bangunan modern dan indah dengan kawasan kumuh di Guang Zhou

Seorang teman di Guang Zhou mengasumsikan mengapa perilaku orang setempat sedemikian “barbar”. Beliau melihat bahwa sumber daya alam yang ada di Tiongkok sangat terbatas dan diperebutkan oleh sekian miliar orang, jadi dapat dipahami mengapa orang tidak mau memberikan kesempatan untuk orang lain, karena khawatir mereka tidak kebagian sumber daya yang sangat sedikit itu. Selain itu aku melihat bahwa Tiongkok sebagai salah satu sumber kebudayaan tertua diperintah oleh despot yang turun-temurun, jika dahulu oleh dinasti-dinasti lalim, maka kini oleh birokrasi pemerintahan dan partai, maka tidak heran apabila mereka merasa diperlakukan tidak sama dan sebagai kompensasinya mereka akan memperlakukan orang lain dengan “semena-mena”.

Kebetulan aku menginap di rumah teman yang berjarak kurang lebih 30 km dari pusat kota Guang Zhou. Jika dibandingkan dengan lingkungan rumah aku menginap, keadaan pusat kota Guangzhou jauh lebih tertib karena sepeda motor dilarang masuk, jadi tidak ada “belalang tempur” yang meliuk-liuk di sela-sela mobil bagai pendekar jalanan. Selain itu, untuk merapikan tata kota, pemerintah kotapraja Guangzhou memindah penduduk yang tinggal di kawasan hunian kumuh, dan membentengi kawasan kumuh tersebut dengan tembok tinggi, sehingga penduduk yang membandel akan sulit memperoleh akses, baik akses keluar masuk atau akses lainnya.

Meloncat ke topik lain, tujuan kunjungan kami adalah untuk melihat tindakan antisipatif pemerintah baik di level lokal, regional maupun nasional terhadap dampak negatif industrialisasi serta peran organisasi kemasyarakatan dan akademisi mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan hidup. Berdasar data Asosiasi Perlindungan Lingkungan, Provinsi Guangdong memiliki kekuatan ekonomi yang cukup besar di China dengan sumbangan sebesar seperdelapan terhadap PDB nasional. Sementara itu, nilai output industri perlindungan lingkungan mencapai RMB 200 milyar, dan mengalami tren peningkatan sebesar 20% per tahun. Namun kemajuan ini harus dibayar dengan kerusakan lingkungan, oleh karena itu, menurut sumber pemerintah, Pemerintah Guangzhou menetapkan kebijakan yang mengatur standar tingkat polusi dan limbah yang harus dipenuhi oleh setiap perusahaan dan secara tegas menerapkan kebijakan tersebut. Perusahaan yang tidak memenuhi standar akan diberikan peringatan dan apabila masih belum memenuhi standar maka perusahaan tersebut akan ditutup oleh Pemerintah.

Menurut narasumber akademisi, pendekatan pemerintah China dalam hal pembangunan ekonomi hijau tidak semata-mata menetapkan target pengurangan emisi CO2 akan tetapi juga diseimbangkan dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu pada tahun 2020, diproyeksikan GDP China akan mencapai dua kali lipat dari GDP saat ini, namun dengan emisi CO2 yang jauh berkurang. Lebih lanjut, para akademisi memberikan masukan kepada pemerintah untuk mengalihkan porsi industri yang selama ini didominasi oleh industri sekunder menjadi industri tersier. Hal ini akan sangat bermanfaat karena karakteristik industri tersier yang rendah karbon dan padat modal sehingga dapat meningkatkan GDP namun mengurangi emisi CO2.

Namun demikian, satu hal yang patut diperhatikan adalah bagaimana pemerintah mengimplementasikan berbagai kebijakannya di berbagai level dari tingkat pemimpin hingga tingkat akar rumput. Teman yang sama menceritakan bahwa memang RRT telah menerapkan kebijakan yang bagus dan indah di atas kertas, namun pada kenyataannya kerusakan lingkungan masih tetap terjadi. Hal ini disebabkan selain sulitnya menyadarkan rakyat untuk berperilaku bersih dan sehat, juga karena pelaksana pemerintahan juga melakukan berbagai upaya untuk mengolah data sehingga terlihat memenuhi syarat. Sebagai contoh adalah tingkat polusi udara, jika menurut WHO udara dikatakan tercemar bila nilai indeks standar pencemar udara lebih dari 300, maka pemerintah setempat akan menambahkan nilai standar tersebut menjadi katakanlah 500, sehingga apabila di negara lain udara kota yang memiliki nilai 301 sudah dikatakan tercemar, namun tidak bagi kota-kota di Tiongkok. Udara baru dikatakan tercemar apabila nilainya sudah mencapai 500, hampir satu setengah kali lipat dari nilai kota-kota lain di dunia!

Memang patut disayangkan apabila langkah tersebut juga diambil oleh kota Guang Zhou, kota yang sangat indah dan berada di titik yang strategis sebagai gerbang pertumbuhan ekonomi tidak hanya bagi belahan selatan RRT namun juga untuk seluruh RRT. Hikmah bagi kita adalah bagaimana kita dapat membentuk kawasan ekonomi khusus di kota-kota strategis di Indonesia yang dilewati jalur perdagangan dunia dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Aku pribadi khawatir Indonesia akan menjadi “Tiongkok Kedua” dimana kita gagal mengelola kekayaan sumber daya alam sehingga hasil dari sumber daya alam yang ada tidak tersebar merata untuk dinikmati seluruh rakyat, sehingga melahirkan rakyat yang berkarakter buruk, yang saling sikut dan kehilangan kesadaran sosialnya.

Wallahu ‘alam bissawab.