Mooi s’Gravenhage, Sebuah Cerita antara Benci dan Rindu

Awal Juni 2014, kami dijadwalkan untuk melakukan kunjungan penelitian di salah satu kota pusat pemerintahan di Eropa. Setelah terbang semalaman dari Jakarta, sekitar pukul 14:40 kami tiba di Bandara Schipol, Amsterdam untuk kemudian bersama rekan-rekan penjemput dari pos Republik di Belanda meluncur menuju kota pemerintahan Belanda, Den Haag. Kota yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai The Hague merupakan kota pusat pemerintahan Kerajaan Belanda sekaligus ibukota Propinsi Holland Selatan. Kota ini memiliki luas sekitar 98 km2 dan berpenduduk kurang lebih 509 ribu jiwa. Den Haag dikenal juga sebagai ibukota hukum dunia karena menjadi tuan rumah International Court of Justice (ICJ) dan International Court of Criminal (ICC). Den Haag juga menuanrumahi berbagai organisasi internasional seperti Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) yang pada tahun 2013 memperoleh Hadiah Nobel di bidang perdamaian. Beberapa organ Uni Eropa juga berlokasi di kota ini seperti Europol, sebuah organisasi yang bertugas untuk mengkoordinasikan upaya kepolisian di Uni Eropa dan Eurojust yakni organisasi yang bertugas untuk mengkoordinasikan upaya penegakan hukum di Uni Eropa.

Kota yang didirikan sejak abad XIII Masehi ini menjadi pusat pemerintahan Belanda sejak kemerdekaannya dari Spanyol pada abad XIV Masehi. Kota ini didirikan oleh penguasa negeri-negeri Hollandia yang meliputi daerah delta sungai Rhine, Meuse, Scheldt dan Ems bernama Floris IV. Kota Den Haag dibangun sebagai salah satu lokasi istana peristirahatan terutama untuk berburu. Oleh karena itu, pada abad XV Masehi kota ini juga dikenal sebagai kota des Gravenhage dan pada abad XVII menjadi s’Gravenhage yang berarti “kebon raja” atau seperti nama salah satu kampung di Magelang -Kebondalem karena konon menjadi kebon raja-raja Mataram untuk menanam aneka tanaman-. Saat ini penggunaan nama s’Gravenhage terbatas pada dokumen-dokumen resmi tertentu seperti akte lahir atau akte nikah. Anak dan cucu Pangeran Floris IV kemudian memperluas istana peristirahatan tersebut dan membangun istana Binnenhof dan Ridderzaal yang masih utuh hingga saat ini. Sejak saat itu, para penguasa wilayah Hollandia menjadikan Den Haag sebagai pusat pemerintahan.

Pada saat Perang Kemerdekaan Belanda melawan Spanyol tahun 1598 – 1648, kota ini sempat diduduki pasukan Spanyol dan hampir dihancurkan oleh pihak Belanda pada tahun 1575 namun berhasil dicegah oleh pemimpin Belanda William van Oranje. Dari tahun 1588 Den Haag tetap menjadi pusat pemerintahan Belanda hingga saat ini.

Kerusakan juga dialami kota ini saat Perang Dunia II dimana beberapa bagian kota dibongkar oleh Nazi Jerman untuk lokasi pembangunan Tembok Pertahanan Atlantik. Selain itu pada bulan Maret 1945, Angkatan Udara Inggris tidak sengaja menjatuhkan bom di bagian kota yang berpenduduk dan bersejarah. Namun demikian, pasca perang Den Haag dibangun kembali dan bahkan wilayah administratifnya diperluas hingga beberapa wilayah pemukiman di sekitarnya seperti wilayah Leidschenveen-Ypenburg.

Beberapa hal yang membedakan antara Den Haag dan pusat pemerintahan negara lain adalah keberadaan lahan hijau. Kota ini penuh dengan hutan, dari wilayah Wassenaar hingga Scheveningen dan Kwarterlaan tempat aku menginap di sepanjang jalan aku lihat rumah-rumah bergaya kolonial yang dikelilingi pohon-pohon, hanya di sekitar Centrum saja yang tidak terlihat ada hutan, tapi taman-taman kota di wilayah tersebut sangat hijau dan teduh. Selain itu, kota ini dipenuhi taman-taman yang dilengkapi fasilitas permainan anak, fasilitas olah raga sederhana dan memungkinkan penduduk untuk bersantai. Bahkan bebek liar yang ada di taman-taman tersebut diidentifikasi dan tag identifikasi yang dilengkapi microchip terpasang di kakinya, jadi bila ada yang iseng menembak dan memanggang bebek liar tersebut, maka sang pelaku akan digelandang ke kantor gementee dan diusut tindakannya!

Hutan Scheveningse yang berada di kota Den Haag

Hutan Scheveningse yang berada di kota Den Haag

Lalu lintas berjalan di kota ini juga terlihat lancar karena populasi mobil dan motor yang sedikit dan mungkin juga karena fasilitas transportasi yang cukup memadai. Sebagai catatan, Den Haag masih memanfaatkan trem listrik seperti yang ada di Djakarta tempoe doeloe yang menghubungkan kota ini dengan kota-kota lain di sekitarnya. Selain trem, warga juga bisa mengandalkan layanan bis kota yang beroperasi hingga malam dengan harga yang cukup terjangkau. Selain itu, Den Haag juga dihubungkan dengan kereta listrik dengan kota-kota besar lain di Negeri Belanda atau di Eropa. Den Haag juga dihubungkan oleh jalan bebas hambatan dengan kota-kota lain dan hebatnya, jalan bebas hambatan tersebut bebas bea, alias gratis (ternyata gratis berasal dari bahasa Belanda, yang artinya cuma-cuma). Namun kendaraan yang diutamakan di kota ini adalah sepeda. Bisa dikatakan Den Haag adalah surga bagi penggila sepeda. Kota ini menyediakan jalur yang biasanya diberi warna merah dan prioritas khusus untuk kereta angin ini. Artinya, jika Anda berjalan di jalur sepeda dan tidak sengaja tertabrak sepeda, maka Anda yang salah dan dapat dikenai sanksi!

Kesan pertama ketika pagi-pagi berangkat ke tempat kunjungan adalah keramahan orang-orang. Mereka tidak segan-segan untuk sekedar menyapa,”goede moergen (selamat pagi)” atau ,”goede avon (selamat malam)”, dan mengingatkan aku pada kesan yang sama ketika masih tinggal di Tokyo. Namun kata salah satu teman, keramahan tersebut tidak dapat dijadikan ukuran solidaritas mereka dengan kita, karena kata teman tersebut tidaklah mudah meminta bantuan mereka ketika kita sedang dalam keadaan yang tidak menguntungkan.

Teman yang lain mengatakan bahwa kota ini dulu saat dia mengikuti short-course di Den Haag, mengalami sindrom aging society, dimana dia hanya melihat orang-orang tua berlalu lalang di kota ini. Namun sekarang telah banyak pasangan yang membawa anak. Memang antara tahun 1970 sampai 2000-an kota ini mengalami penyusutan penduduk dimana puncaknya terjadi pada tahun 1980 dimana penyusutan mencapai 17,1%. Namun dekade terakhir ini kota Den Haag mengalami pertumbuhan penduduk sekitar 4,2% sehingga jumlah total penduduk mencapai sekitar 509 ribu jiwa.

Kesan lainnya adalah sisa-sisa kelesuan ekonomi yang melanda Eropa menyusul krisis finansial tahun 2008. Karena stagnasi ekonomi yang demikian lama, banyak properti di kota Den Haag dijual. Sepanjang perjalananku di kota ini, banyak tempat tinggal baik berupa rumah maupun aparteman dihiasi plang atau spanduk bertuliskan “Te Koop” yang berarti dijual.

Wajah internasional kota inipun tampak terasa saat kita berjalan di pusat kota Den Haag. Orang-orang dari berbagai bangsa menikmati kota ini, dari yang berkulit putih, rambut lurus pirang dan bermata biru hingga yang berkulit hitam, rambut keriting hitam dan bermata hitam ada. Bahkan banyak wanita yang memakai hijab, terasa seperti di tanah air. Bahkan aku menyaksikan di supermarket Albert Heijn Centrum, makanan halal dan non-halal dibedakan, dan sebagian kasir mengenakan hijab juga.

Sementara kami menikmati kesibukan kunjungan di kota Den Haag, pikiranku melayang pada nasib Nusantara -kawasan yang saat ini menjadi Republik Indonesia- juga pernah dikendalikan dari kota ini. Seluruh kegiatan eksplorasi dan eksploitasi daerah jajahan Belanda diatur di balik bangunan-bangunan bergaya baroque dan gothic yang bertebaran di kota. Dengan besar wilayah dan jumlah penduduk yang sedikit, sumber daya alam yang sangat terbatas Belanda berhasil menguasai daerah jajahan yang mungkin paling kaya di dunia yaitu Nusantara dan beberapa daerah lainnya di Asia, Amerika dan Afrika, dan kita bangsa Indonesia baru 69 tahun menyatakan diri merdeka dari cengkeraman penjajahan bangsa manapun dan baru 65 tahun lalu bangsa Belanda mengakui [menurut kita dan menyerahkan menurut mereka] kedaulatan atas Indonesia kepada bangsa Indonesia, setelah ratusan tahun bangsa ini bercokol dan memaksa bangsa-bangsa di Nusantara mengikuti kehendak mereka tanpa reserve! Menurutku modal yang membuat bangsa ini mentranformasikan diri dari jajahan Kekaisaran Suci Romawi menjadi salah satu bangsa yang paling kuat di bidang maritim dan ekonomi adalah pendidikan.

Seorang teman menceritakan bahwa seorang anak harus memilih tiga jenis sekolah selepas pendidikan dasar (setingkat SD) yaitu di VMBO, HAVO atau VWO. VMBO mengajarkan pelajaran-pelajaran kejuruan dan lulusannya dapat langsung memasuki pasar tenaga kerja. HAVO menyiapkan lulusannya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi kejuruan dan terapan, sedangkan VWO mengajarkan ilmu-ilmu murni dan lulusannya dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi umum. Dengan demikian, seorang anak di Belanda sudah dapat menentukan “nasib”nya sesuai dengan kemampuan dirinya dari fase awal kehidupan.

Kompleks Gedung Parlemen Kerajaan Belanda

Ridderzaal di Kompleks Gedung Parlemen Kerajaan Belanda, di gedung inilah Konferensi Meja Bundar yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda dilaksanakan

Meminjam istilah almarhum Duta Besar Abdul Irsan yang pernah menjadi Duta Besar RI untuk Negeri Belanda antara tahun 1998 – 2002, perjalanan di Den Haag membuat kita terjebak antara benci dan rindu. Anda akan “jatuh cinta pada pandangan pertama” terutama bagi Anda yang menyukai lingkungan yang hijau, tenang dan ramah. Namun bila Anda lihat lebih jauh berbagai monumen, bangunan dan kantor-kantor pemerintahan, Anda akan teringat pada masa-masa suram kolonialisme Belanda dimana kekayaan bumi Indonesia diserap dan kita dijadikan sekedar budak oleh mereka.

Namun demikianlah sejarah, dia adalah jarum jam yang tidak mungkin di putar kembali, manusia hanya bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari perjalanannya yang sangat panjang. Dulu di kampus pernah diadakan kuliah umum yang mengundang salah seorang guru besar lingustik dari Jepang. Di sesi tanya jawab, salah seorang peserta aktif yang kebetulan mantan prajurit PETA menyatakan bahwa Indonesia lebih beruntung dijajah Jepang karena Jepang membentuk PETA yang menjadi tulang punggung TNI melawan NICA di masa revolusi fisik ketimbang Belanda yang merekrut segelintir prajurit pribumi dalam Koninklijk Nederlands Indisch Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda – KNIL) dan pada akhirnya KNIL “dihancur-leburkan” (menurut beliau) oleh TNI.

Bagiku, kedua bangsa tersebut adalah penjajah yang menyengsarakan kakek, nenek dan leluhurku. Jepang bisa saja dianggap membantu kemerdekaan Indonesia, tanpa adanya Perang Pasifik yang dipicu oleh [nafsu menguasai sumber daya alam] Jepang, Belanda tidak akan terusir dan Indonesia mungkin baru merdeka pada paruh kedua Abad XX. Namun sebaliknya apabila kita tidak dijajah Belanda, aku tidak yakin keindonesiaan kita akan terbentuk dan Nusantara hanyalah wilayah yang diperebutkan oleh mungkin 500 kerajaan kecil yang dikuasai despot-despot kejam. Kita juga patut mengingat bahwa Republik Indonesia sesuai dengan asas uti possidentis iuris adalah negara ahli waris wilayah jajahan Belanda yang bernama Hindia Belanda sebagaimana yang dituntut oleh Delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar 1949.

Akhirulkalam, biarkanlah rasa benci dan rindu ini berkecamuk dan menjadikan kita lebih bijak memandang diri dan lingkungan kita. Wallahu’alam bissawab…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s