Bumi Etam, Lukisan Keindahan yang Semoga Tak Kelam

Kalimantan Timur merupakan salah satu propinsi kaya, bahkan terkaya di Indonesia dari sisi potensi pendapatan asli daerah. Daerah ini mengandalkan sumber daya alam berupa hasil tambang khususnya tambang batubara, minyak dan gas alam. Saya memperoleh kesempatan untuk mengunjungi Kalimantan Timur beberapa kali; Samarinda pada bulan Maret 2015 dan Balikpapan pada 30 November 2015. Refleksi perjalanan tersebut disajikan berdasar laporan untuk dinas dan beberapa bahan yang ada di dunia maya.

Secara historis, Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah vasal Kesultanan Banjar dan beberapa Kesultanan lain seperti Kesultanan Kutai Kartanegara, Bulungan, Pasir, Gunung Tabur dan Sambaliung serta Bulungan. Menyusul kekalahan Sultan Hasanuddin dari Makasar tahun 1667, beberapa keluarga bangsawan Bugis yang tidak sudi menyerah kepada Belanda juga bermukim di daerah sepanjang aliran sungai Mahakam dan mendirikan kota Samarinda. Sejak abad XVII dan XVIII, Belanda menguasai Kalimantan Timur dengan metode pembentukan perjanjian politik antara pemerintah Belanda dengan Kesultanan Banjar dan berbagai Kesultanan di Kalimantan Timur. Belanda memasukkan Kalimantan Timur sebagai Ooster Afdeeling van Borneo (wilayah Timur Borneo) bagian dari Residentie Zuider en Oosterafdeeling van Borneo (Karesidenan wilayah Selatan dan Timur Borneo) dengan menempatkan seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Samarinda.

Eksplorasi alam Kalimantan Timur dimulai Belanda dengan dilaksanakannya Ekspedisi yang dipimpin oleh Mayor Georg Muller menuju pedalaman Kalimantan. Sang Mayor ditemani oleh prajurit Belanda dan beberapa puluh prajurit pribumi setelah meneken perjanjian dengan Sultan Kutai melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimatan yang belum dijamah manusia untuk melihat daerah hulu sungai Mahakam, Kapuas dan Barito. Ekspedisi ini dimulai pada 8 Agustus 1825. Ekspedisi tersebut terdiri atas Muller dan 20 orang prajurit, namun hanya seorang prajurit Jawa yang mencapai Kalimantan Barat pada bulan Januari 1826. Muller dan rombongannya konon dibunuh di hulu Sungai Kapuas dan hingga tahun 1950-an, orang-orang Belanda masih terus mencari informasi akurat mengenai hilangnya rombongan Ekspedisi Muller tersebut.

Pada tahun 1888 cadangan minyak bumi dan batu bara ditemukan di Kalimantan Timur. Pemerintah Belanda meminta izin Sultan Aji Muhammad Sulaiman, penguasa Kutai Kartanegara saat itu untuk melakukan eksploitasi minyak bumi dan batu bara. Mulai saat itu, minyak bumi dan batu bara menjadi komoditas andalan bagi Kalimantan Timur. Belanda melalui perusahaan Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM) melakukan eksploitasi minyak di ladang minyak Balikpapan. Untuk keperluan ladang minyak ini, BPM dengan seizin Sultan Aji Muhammad membangun bandar udara di kawasan Sepinggan, Balikpapan. Bandar udara ini mulai beroperasi pada tahun dan masih digunakan sampai saat ini.

Ketika Perang Pasifik berkecamuk, tentara Kekaisaran Jepang berambisi untuk menguasai Tarakan dan Balikpapan, karena kedua kota ini memiliki kilang dan cadangan minyak yang cukup besar, konon produksi minyak sehari di kedua kota tersebut dapat memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang selama satu bulan. Walaupun dipertahankan oleh tentara Sekutu, yang terdiri atas KNIL dan AD Australia, pada tanggal 11 Januari 1942 Tarakan dan tanggal 23 Januari 1942 Balikpapan dapat dikuasai Tentara Jepang. Pada akhir Perang Pasifik, kedua kota tersebut direbut kembali oleh Brigade XXVI dan Divisi VII Angkatan Darat Australia pada bulan Mei dan Juli 1945.

Pasca Perang Dunia II, beberapa Kesultanan di daerah ini tergabung ke dalam Federasi Kalimantan Timur dan membentuk Dewan Kesultanan. Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, Federasi Kalimantan Timur tergabung ke dalam Republik Indonesia Serikat. Pada tahun 1956, terbentuklah Propinsi Kalimantan Timur dan beberapa Kesultanan yang ada dihapuskan pada tahun 1960. Penghapusan Kesultanan pada umumnya terjadi dengan damai, kecuali di Bulungan yang dikenal sebagai Tragedi Bultiken. Keluarga Kesultanan Bulungan banyak dieksekusi karena dituduh membantu Federasi Malaysia saat terjadi konfrontasi Indonesia – Malaysia pada tahun 1963 – 1966.

Setelah memasuki masa Orde Baru, Propinsi Kalimantan Timur mulai berbenah. Sektor industri ekstraktif yaitu tambang minyak dan batu bara menjadi andalan perekonomian Kalimantan Timur hingga hari ini. Kedua sektor ini menjadi penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah hingga 80% dari total PAD Kalimantan Timur. Wilayah Kutai yang kaya akan batu bara, Balikpapan dan Tarakan yang menjadi daerah penghasil minyak dan gas menjadi daerah yang sangat maju dan menjadi sasaran “urbanisasi” dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengadu nasib di Kalimantan Timur. Selain minyak dan gas, kayu dan hasil hutan lainnya menjadi penyumbang pendapatan daerah. Namun saat ini, pendapatan daerah didiversifikasi ke sektor lain seperti industri – seperti industi kimia, logam dan pengolahan hasil bumi dan laut, serta pariwisata khususnya wisata ekologi seperti Taman Nasional Beting Kerihun atau Pulau Derawan yang sedang menjadi topik perbincangan di dunia maya.

Kepulauan Derawan

Saat ini Kaltim sudah dimekarkan menjadi dua provinsi melalui pembentukan provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang dituangkan dalam Undang-Undang nomor 20 Tahun 2012. Wilayah Kaltim beriklim tropis dengan topografi berbukit dengan titik tertinggi berada pada 2.240 m di atas permukaan laut. Persebaran penduduk relatif tidak merata dengan luasan wilayah mencapai ± 21 juta ha. Penduduk terkonsentrasi di wilayah perkotaan dimana pemicu pertumbuhan tersebut awalnya adalah migrasi dari pulau Jawa dan sekitarnya. Jumlah penduduk pada tahun 2013 tercatat sebanyak 4,2 juta jiwa (termasuk Kaltara) dengan laju pertumbuhan penduduk berkisar 2,7 % per tahun.

Perekonomian Kaltim didominasi oleh sektor sumber daya alam terutama pertambangan migas dengan potensi utama berada di kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat dan Paser. Untuk wilayah perkotaan di kota Samarinda dan Balikpapan didominasi sektor jasa, perdagangan dan sektor industri pengolahan. Namun, akhir-akhir ini di informasikan bahwa sektor non-migas juga mulai menunjukkan tren yang cukup positif tiap tahunnya. Pertumbuhan ekonomi sektor migas masih fluktuatif selama periode 2008-2012 dengan rata-rata mencapai 4,06% per tahun, sementara pertumbuhan ekonomi tanpa migas cenderung meningkat dalam periode yang sama yaitu rata-rata 9,52% per tahun. Tingkat kemiskinan di provinsi ini hanya 7,26% per tahun dan tingkat pengangguran rata-rata 9,83% per tahun.

Peta_Kaltim

Kaltim dianugerahi oleh wilayah yang luas (dalam konteks luas wilayah untuk tiap Kabupaten) dan berbagai kandungan sumber daya alam baik terbarukan maupun tidak terbarukan. Namun daerah kota di Kaltim relatif lebih sempit luas wilayahnya dan berpusat pada sektor jasa, perdagangan dan industri. Sektor berbasis sumber daya alam masih menjadi daya tarik utama kegiatan usaha di Kaltim, dan di dominasi oleh sektor pertambangan dan pertanian dalam arti luas. Pada periode 1980–1990an komoditi kayu dan hasil hutan sangat mendominasi, dan menjelang awal tahun 2000an, batu bara menjadi komoditi primadona. Namun di saat yang sama, akhir-akhir ini investor asing dan domestik mulai melirik Kaltim sebagai daerah strategi sebagi pengembangan sektor pertanian dalam arti luas di mana salah satu andalannya adalah kelapa sawit yang saat ini menembus luas area perkebunan ±1,3 juta ha dan total produksi rata-rata 4,6 juta per ton TBS per tahun selama 2009-2013.

Kontribusi sektor ekonomi berbasis sumber daya alam dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Kaltim dapat dilihat dari data yang melukiskan bahwa pada tahun 2013, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim kumulatif hingga triwulan IV adalah Rp. 425,4 trilyun. Namun PDRB tanpa memperhitungkan migas dan batu bara hanya mencapai Rp. 164,6 trilyun. Hal ini membuktikan betapa besarnya peran kedua komoditi tersebut dalam membantu pembangunan daerah. Dalam hal perdagangan luar negeri, sektor pertambangan dengan komoditi utama berupa mineral dan batu bara merupakan pembentuk ekspor dengan proporsi ± 92,31% dalam tahun yang sama.

Maloy-Batuta_ESZ

Pemerintah Kaltim telah mengantisipasi tantangan dan hambatan pertumbuhan ekonomi dengan mempersiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy–Batuta–Trans Kalimantan (MBTK) dimana untuk pengolahan hilirisasi batu bara ini berada pada kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP) di kawasan Trans Kalimantan Economic Zone (TKEZ). Sedangkan langkah strategis mengatasi tantangan transportasi adalah pembangunan rel kereta api yang direncanakan dimulai dari Kabupaten Kutai Barat melalui Kabupaten Paser, Paser Penajam Utara hingga berakhir di Kota Balikpapan dengan panjang 185 km dan diperkirakan jumlah investasi yang dibutuhkan US$1,8 milyar. Pembangunan perkeretaapian merupakan bentuk kerjasama Pemerintah Kaltim dengan Russian Railways melalui Kalimantan Rail Ltd. (Penanaman Modal Asing Singapura) dimana operasionalisasinya ditangani oleh PT. Kereta Api Borneo yang berkedudukan di Jakarta. Diharapkan pada tahun 2018 sistem perkeretaapian tersebut sudah dapat beroperasi.

Perkembangan ekspor Kaltim sampai dengan bulan Desember 2014 mencapai US$ 15,49 milyar, apabila di bandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya 2013 yang sebesar US$ 18,13 milyar maka mengalami penurunan sebesar 14,56%. Realisasi pada tahun 2014 didominasi oleh sektor pertambangan (86,5%) disusul industri kimia (3,34%), kayu dan produk kayu (2,85%), pertanian dan perkebunan (2,17%), industri logam (1,63%), perikanan dan kelautan (1,07%) dan sektor lain (2,16%). Tujuan ekspor utama Kaltim yakni ke India dengan nilai ekspor sebesar US$ 3,5 milyar, China dengan nilai ekspor US$ 3,4 milyar, Jepang dengan nilai ekspor US$ 2 milyar, Korea Selatan dengan nilai ekspor US$ 1,6 milyar dan Taiwan dengan nilai ekspor US$ 1,3 milyar.

Produk Utama

Provinsi Kaltim mempunyai sumber daya alam yang sangat besar disamping potensi industri minyak dan gas, batu bara serta pertambangan lainnya, Kaltim mempunyai potensi yang cukup besar di sektor agroindustri, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Produk utama yang saat ini sedang digarap adalah sawit dan olahan sawit, karet dan olahan karet, kakao, tepung tapoika dan mocaf, buah-buahan, rotan, gaharu dan produk hasil hutan lainnya.

Selain produk manufaktur dan pertanian, Kaltim juga menggalakan sektor jasa, khususnya pariwisata. Propinsi ini mengandalkan objek wisata suaka margasatwa dan taman nasional baik di darat maupun di laut seperti Bukit Bangkirai di Balikpapan, Taman Nasional Kutai di Kabupaten Kutai Timur dan Kepulauan Derawan di Kabupaten Berau. Jenis destinasi wisata lain adalah wisata budaya misalnya kawasan wisata budaya adat Dayak di Pampang, Samarinda dan Kota Melak, Kutai Barat serta festival budaya seperti Festival Erau di Tenggarong;

Hambatan dan Tantangan

Dalam proses pembangunan, khususnya di bidang ekonomi, Provinsi Kalimantan Timur menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Berdasar pertemuan dengan berbagai pemangku kepentingan, hambatan dan tantangan yang dihadapi adalah:

  • Faktor geostrategis Kalimantan Timur yang kurang menguntungkan. Dengan luas sebesar 129.066,64 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 3,6 juta orang, membuat proses pembangunan hingga daerah perbatasan terlalu mahal untuk dilakukan. Terkait dengan faktor geostrategis di atas, infrastruktur yang meliputi infrastruktur jalan, dan listrik tidak berkembang dengan baik. Jaringan jalan di provinsi Kaltim mencapai 8.189,78 km masih dinilai belum dapat menghubungkan kabupaten-kabupaten di wilayah Kaltim, walaupun saat ini sedang dibangun ruas jalan tol yang nantinya menghubungkan Balikpapan – Samarinda. Selain itu, saat ini pemerintah sedang membangun jalan sabuk pertahanan di sepanjang batas negara Indonesia – Malaysia yang dilakukan oleh kesatuan Zeni TNI-AD. Jalan ini diharapkan membentang dari Nunukan di Kalimantan Utara hingga Sambas di Kalimantan Barat. Untuk meningkatkan mobilitas, Pemprov Kaltim saat ini sedang mengembangkan jalur kereta api dari Kabupaten Paser di selatan hingga Kabupaten Nunukan di Provinsi Kalimantan Utara. Untuk infrastruktur kelistrikan, Kaltim memiliki tingkat elektrifikasi rendah sebesar 66,36% walaupun provinsi Kaltim masih memiliki surplus produksi listrik sebesar 36,78 MW.
  • Investor untuk hilirisasi industri (downstreaming) antara lain meliputi industri likuifikasi batu bara, industri pengolahan CPO dan industri perikanan juga sulit diperoleh. Investor diperlukan untuk meningkatkan nilai produk-produk primer Kaltim. Walaupun perizinan di Kaltim mudah, tapi nampaknya para investor belum tertarik untuk menanam modalnya di Kaltim. “Mungkin karena kondisi ekonomi dunia yang menurun atau mungkin karena nama Kalimantan Timur belum cukup dikenal di kalangan investor”, keluh beberapa pemangku kepentingan.
  • Sebagai provinsi yang menghasilkan batu bara, penurunan harga batu bara di pasar dunia cukup berpengaruh pada kegiatan ekonomi di Kaltim, mengingat 80% pendapatan asli daerah Kaltim berasal dari komoditas ini. Pelemahan ekonomi sebagai akibat penurunan harga komoditas batu bara ini terlihat dari penurunan omset pedagang, khususnya barang elektronika dan kendaraan bermotor. Salah seorang rekan yang membuka toko elektronika di Balikpapan mengkonfirmasikan gejala ini waktu saya mengunjunginya saat Tahun Baru Imlek 2016 lalu;
  • Hambatan lain yang dihadapi Pemprov Kaltim adalah dana pembangunan, baik yang berasal dari APBD maupun APBN. Berdasar informasi dari instansi Pemprov Kaltim, dana pembangunan yang diterima pemerintah pusat dirasa tidak seimbang dengan sumbangan devisa yang berasal dari penjualan komoditas terutama migas dan batubara. Untuk itu, pemerintah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota beserta elemen masyarakat menuntut otonomi khusus khususnya dalam hal perimbangan keuangan. Keinginan otonomi khusus tersebut terlihat dari banyaknya poster-poster yang menuliskan “Otonomi Khusus Harga Mati” di sepanjang jalan Balikpapan – Samarinda.

Melihat potensi dan modal yang telah dimiliki propinsi Kalimantan Timur, sayang kiranya bila kesejahteraan rakyatnya tidak terpenuhi, ibarat ayam mati di lumbung. Langkah pemerintah daerah yang melakukan investasi berupa pendidikan bagi pemuda Kaltim cukup tepat, namun Kaltim juga perlu “dijual” ke dunia sehingga potensi dan modal tersebut dapat memberikan dampak ganda bagi kesejahteraan rakyat. Wallahu a’lam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s