Mandalika Si Jelita: Catatan Perjalanan ke Lombok, Nusa Tenggara Barat

Untuk mempersiapkan salah satu acara rutin terkait meredam potensi konflik di Laut China Selatan yang digelar kantor, saya dan beberapa rekan melakukan pengecekan ke Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk memastikan venue, atraksi wisata maupun program acara dengan pemerintah setempat. Kami tiba di Bandara Internasional Lombok pada siang hari tanggal 19 Agustus 2015. Bandara ini merupakan bandara baru untuk sebagai pengganti Bandara Selaparang yang terletak di kota Mataram. Bandara ini terletak di Kabupaten Lombok Tengah sekitar 10 km sebelah selatan ibukota kabupaten di Praya. Pembangunan bandara di Lombok Tengah merupakan salah satu strategi pemerintah propinsi NTB untuk meratakan pembangunan yang selama ini terpusat di kota Mataram yang berada di sisi barat Lombok ke arah timur pulau Lombok. Udara saat itu kebetulan terasa sejuk, sopir yang menjemput kami menginformasikan bahwa biasanya bulan Agustus terasa panas, namun karena anomali cuaca, kemarau tahun 2015 ini terasa sejuk.

Kota Mataram adalah ibukota Propinsi Nusa Tenggara Barat, kota ini terletak di sisi barat Pulau Lombok, salah satu pulau yang menjadi bagian propinsi NTB selain pulau Sumbawa dan pulau-pulau kecil lain. Pulau Lombok saat ini menjadi salah satu tujuan wisata baru yang sedang naik daun, berkat kedekatannya dengan Bali dan menawarkan atmosfer asli dan eksotik yang berbeda dengan Bali yang terasa hiruk pikuk kepada wisatawan, baik lokal maupun asing.

Pulau ini cukup unik, khususnya di paruh barat Lombok yang masih memiliki nuansa Bali yang kental, baik dari sisi banyaknya bangunan khas Bali, banyaknya masyarakat yang berbahasa Bali dan beragama Hindu atau tari-tarian dan gamelan khas Bali. Namun, agak sedikit ke arah Lombok Tengah atau selatan, nuansa Islami cukup kental dengan banyaknya masjid atau pondok pesantren. Memang dari sisi historis, Lombok memiliki kaitan erat dengan Bali, Jawa dan Makassar. Konon, salah satu legenda menyebut bahwa suku utama di Lombok yaitu suku Sasak berasal dari tanah Jawa yang mengembara ke pulau yang letaknya lurus ke timur pada abad IX Masehi. Untuk mengenang perjalanan lurus ke timur itu, maka pelabuhan tempat suku Sasak ini mendarat disebut lomboq yang artinya lurus. Sedangkan nama suku Sasak sendiri konon diambil dari perahu bercadik yang disebut sak-sak. Suku Sasak kemudian membaur dengan orang pribumi dan mendirikan kerajaan Lombok yang berkembang selama beberapa abad. Kerajaan ini dikenal sebagai wilayah penghasil beras, tarum (tanaman penghasil warna biru) dan kayu sepang atau secang yang jika direndam akan menghasilkan warna merah dan dijadikan bahan penyamak kulit. Kerajaan ini bertahan dari abad IX hingga XII Masehi, sebelum dikuasai raja-raja dari Bali.

Ketika Majapahit meluaskan kekuasaannya pada abad XIV Masehi, Kerajaan Lombok atau sebagian ahli menyebutnya sebagai Kerajaan Selaparang ditaklukan oleh armada ekspedisi Majapahit dan menjadi kerajaan bawahannya. Ketika Majapahit runtuh pada abad XV Masehi dan Islam berkembang di Nusantara, Kerajaan Selaparang juga menjadi kerajaan bercorak Islam berkat beberapa penyebar agama Islam seperti Sunan Prapen dari Jawa atau penyebar Islam dari Gowa dan dari Sumbawa. Kerajaan Selaparang Islam ini bertahan hingga tahun 1774 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang karena permasalahan dengan raja Selaparang. Pendudukan Bali ini memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat di sisi barat Lombok, seperti pada tarian serta peninggalan bangunan (misalnya Istana Cakranegara di Ampenan).

Pada tahun 1894 Lombok terbebas dari pengaruh Karangasem akibat campur tangan pemerintah Hindia Belanda yang diminta oleh tokoh-tokoh Sasak untuk mengakhiri kekuasaan dan pengaruh Kerajaan Karangasem. Pemerintah Batavia yang pada saat itu baru saja memenangkan perang Puputan pada tahun 1846 dengan Kerajaan Buleleng dan menguasai Pulau Bali langsung bertindak dan mengakhiri pengaruh Kerajaan Karangasem. Namun, setelah proses tersebut terjadi, di Lombok tidak dibentuk kerajaan lokal, namun berada di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda secara langsung.

Ketika Hindia Belanda bertekuk lutut kepada Balatentara Kekaisaran Jepang pada bulan Maret 1942, Lombok berada di bawah kendali pemerintah pendudukan Jepang wilayah timur, khususnya markas Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Makasar. Seusai Perang Dunia II Lombok sempat berada di bawah Negara Indonesia Timur, sebelum kemudian pada tahun 1950 bergabung dengan Republik Indonesia dan menjadi bagian dari Propinsi Nusa Tenggara. Pada tahun 1958, Propinsi Nusa Tenggara dipecah menjadi 3 propinsi baru yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat yang di dalamnya termasuk Pulau Lombok dan Sumbawa dan Nusa Tenggara Timur.

Berdasar penelusuran data daring, tidak banyak catatan tersisa terkait dengan proses pembangunan propinsi NTB dari awal pembentukan di tahun 1958 hingga awal Orde Baru tahun 1968. Hasil pembangunan baru tercatat pada masa Pembangunan Lima Tahun dimana pada masa akhir dasawarsa 70-an NTB mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri dan mengembangkan padi gogo rancah yang dapat ditanam di lahan kering. Padi gogo rancah ini menjadi tagline NTB “Bumi Gora” hingga sekarang. Secara geografis, Propinsi Nusa Tenggara Barat terdiri atas 2 pulau besar yaitu Lombok dan Sumbawa dan dikelilingi oleh 280 pulau-pulau kecil. Luas wilayah Propinsi NTB mencapai 49.312,19 km persegi terdiri dari daratan seluas 20.153,15 km persegi (40,87%) dan perairan laut seluas 29.159,04 km persegi (59,13%) dengan panjang garis pantai 2.333 km. Luas Pulau Lombok sendiri mencapai 4.514,11 km persegi.

Mayoritas penduduk NTB yang berjumlah sekitar 3,7 juta masih menggantungkan diri pada kegiatan subsisten seperti cocok tanam padi, ketela pohon, buah dan sayuran. Sektor swasta masih terbilang kecil ketimbang Bali namun lebih maju daripada sektor swasta di NTT. Sektor yang berkembang pesat dewasa ini adalah sektor pariwisata, dimana Lombok menjadi destinasi wisata baru bagi wisman maupun wisnus. Berkat pendirian beberapa hotel bintang empat dan lima di kawasan Pantai Senggigi di sebelah barat laut dan di dalam kota Mataram sendiri juga memberi andil pada peningkatan wisatawan dari 154.000 orang di tahun 1994 menjadi 214.000 orang pada tahun 1997. Bahkan saat terjadi kerusuhan sosial sebagai akibat ketidakpuasan atas Orde Baru pada tahun 1998, tingkat okupasi hotel di Lombok hanya menurun sekitar 20-25% saja.

Selain itu, potensi pertambangan juga cukup menarik di NTB. Salah satu perusahaan tambang AS terkemuka, Newmont telah melakukan ekplorasi dan eksploitasi tambang mineral tembaga dan emas di sisi barat daya pulau Sumbawa. Jika krismon membuat orang menurun pendapatannya, perusahaan tambang ini justru menikmati krisis karena harga dan biaya operasional jauh lebih murah! Namun dewasa ini, karena terbitnya Undang-Undang nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Pertambangan yang mewajibkan perusahaan tambang membangun smelter di Indonesia dan larangan mengekpor bijih mineral mentah, tampaknya sektor pertambangan di propinsi ini akan sedikit melamban kinerjanya.

Sektor pertanian yang baru digarap di Lombok adalah kedelai dengan target untuk memenuhi kebutuhan nasional. Selain itu, salah satu rekan kuliah dulu juga bekerja di Lombok untuk perusahaan Jepang yang tertarik untuk mengembangkan tanaman jarak dan ketela pohon sebagai bahan biofuel. Konon paruh timur pulau Lombok merupakan wilayah potensial untuk tanaman bahan biofuel ini. Selain pertanian, propinsi NTB, khususnya pulau Sumbawa juga memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan ternak, khususnya sapi potong dan perikanan. Sektor-sektor ini juga didukung dengan ketersediaan infrastruktur transportasi ke Pulau Jawa yang cukup mendukung.

Sektor tersier merupakan sektor paling dominan di Nusa Tenggara Barat, termasuk Lombok, mengingat sektor perhotelan, pariwisata, restoran, perdagangan dan jasa merupakan salah satu primadona yang menyumbang 52,69% Produksi Domestik Regional Bruto di propinsi ini pada tahun 2011. Hal ini berarti sektor pariwisata dan sektor pendukungnya menjadi katalis utama perekonomian di NTB. Sektor ini juga didukung dengan atraksi wisata yang menarik seperti kontur dan lansekap alam misalnya pantai, gunung, palung, koral dan lain-lain serta kehidupan sosial budaya yang unik seperti desa adat, desa kerajinan dan lain-lain.

Kembali ke catatan perjalanan saya, beberapa jam setelah kami tiba, kami melakukan pertemuan dengan jajaran pimpinan Dewan Promosi Pariwisata NTB, yang salah satu pimpinannya adalah ahli waris ayam goreng Taliwang terkenal di Mataram, Rumah Makan Haji Murad. Konon, resep ayam taliwang diciptakan oleh kakek dan nenek beliau, Haji Murad tersebut. Di tempat tersebut kami disambut dengan presentasi potensi wisata terkenal di Lombok dan determinasi pemangku pariwisata Lombok yang ingin menang di ajang pemilihan the Best Halal Tourism Destination di Dubai tahun 2015, dimana Lombok benar-benar meraih penghargaan sebagai The Best Halal Tourist Destination 2015 dan the Best Halal Honeymoon Destination 2015. Para pengurus Dewan Promosi Pariwisata NTB terlihat sangat bersemangat dan memiliki ide-ide segar untuk membantu pemerintah propinsi NTB dalam memasarkan destinasi-destinasi wisata NTB yang menawan, alami dengan harga yang lebih kompetitif ketimbang Bali. Dalam materi paparan tersebut, kami ditawari beberapa destinasi menarik seperti Gunung Rinjani dan danau Segara Anak, air terjun di Pulau Moyo, beberapa desa adat dan kerajinan serta primadona baru wisata Lombok yaitu Mandalika Resort. Untuk kegiatan ekskursi, kami disarankan ke Mandalika, kemudian desa adat Sade, desa kerajinan Sekarbela dan kembali ke kota Mataram. Bahkan mereka menyarankan apabila ada peserta kegiatan yang tertarik untuk memperpanjang masa tinggal agar melakukan ekskursi ke tiga pulau, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.

Tiga pulau tersebut merupakan salah satu primadona baru eco-wisata di Lombok. Pulau yang terdekat dengan Lombok adalah Gili Air, kemudian Gili Meno baru Gili Trawangan. Ketiga gili dapat dicapai dengan kapal atau speed boat dari dermaga Bangsal, sekitar 45 menit perjalanan dari kota Mataram. Perjalanan lautnya sendiri memakan waktu kira-kira 30 menit. Pengunjung disarankan untuk datang pagi, menikmati ketiga gili seharian dan kembali ke Mataram di sore hari, mengingat ombak cenderung meninggi di malam hari. Namun mengingat waktu yang sedikit, kami memutuskan ekskursi ke tiga gili tidak feasibel untuk dilakukan. Sebenarnya tiga gili ini memiliki atraksi wisata alam dan bawah air yang menarik. Selain itu, keaslian alamiahnya masih dijaga, dimana di ketiga gili tersebut tidak ada kendaraan bermotor. Lalu lintas orang dan barang dilayani dengan sepeda atau kereta kuda khas Mataram yang disebut sebagai Cidomo.

Setelah menikmati hidangan ayam taliwang, plecing kangkung yang cukup menyengat lidah karena rasanya yang gurih pedas, kami pamit dan berjanji untuk mengunjungi berbagai atraksi wisata yang ditawarkan jajaran Dewan Promosi Pariwisata NTB tersebut. Malam itu, kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa hotel di Sengigi, kantor Imigrasi, Pemprop NTB dan bila masih ada waktu mengunjungi satu atau dua objek wisata.

Keesokan harinya kami memulai perjalanan dengan melihat beberapa hotel di kawasan pantai Senggigi. Pantai ini cukup indah dan sepanjang pantai dipenuhi resort-resort seperti Killa Beach Hotel, Sheraton Senggigi, dan Santosa Villa Senggigi. Hotel-hotel bintang tersebut menawarkan amenities dan fasilitas yang sangat bagus (maklum bintang empat dan 5) dan memiliki wilayah pantai yang cukup indah dinikmati. Selain itu, kawasan pantai Senggigi ini memiliki berbagai fasilitas yang memanjakan wisatawan seperti toko souvenir, restoran, cafe, karaoke, travel agent, bahkan spa dan panti pijat! Tidak heran jika suasana di Pantai Senggigi ini mirip dengan suasana di Pantai Kuta, Bali namun minus kemacetan jalan, karena walaupun jalanan di sekitar kota Mataram ini kecil, namun volumenya tidak begitu padat (semoga demikian hingga hari ini).

Pantai Senggigi yang dipenuhi dengan resort wisata (dok. pribadi)

Pantai Senggigi yang dipenuhi dengan resort wisata (dok. pribadi)

Setelah menjelajahi kawasan pantai di sebelah utara kota Mataram, kami mengunjungi beberapa objek wisata lain. Kawasan kota Mataram adalah tujuan kami pertama. Di sekitar kota ini terdapat beberapa objek wisata desa kerajinan seperti desa pengrajin cukli Rungkang Jangkuk. Cukli adalah ragam hias di mebel yang berasal dari kulit kerang mutiara. Bahan mentah berupa kulit kerang mutiara diolah dan dipotong kecil-kecil berbentuk segitiga, kotak, bulat atau bulan sabit sesuai kebutuhan. Potongan kulit tadi kemudian ditempelkan ke lubang bekas cukilan di mebel sesuai dengan pola-pola hiasannya. Setelah pola hiasan tersebut terisi semua oleh kulit kerang mutiara, maka mebel tersebut dipoles dan dipelitur sehingga menghasilkan produk mebel yang indah dan seperti bertaburan mutiara. Di desa ini kami disambut oleh salah satu pengrajin yang cukup besar. Dengan ramahnya dia mengajak kami ke bengkel kerja cukli dan melihat prosesnya.

Setelah puas melihat kerajinan cukli, kami kemudian bergerak ke ke desa adat Sade. Desa ini terletak sekitar 50 km sebelah selatan kota Mataram. Dengan kondisi lalu lintas saat itu, dan adanya pengalihan arus kendaraan karena perbaikan jalan, perjalanan menuju desa adat Sade memakan waktu sekitar 1 jam dari kota Mataram. Di desa ini, kami disambut oleh salah satu pemandu wisata yang merupakan warga desa adat Sade. Si pemandu dengan bersemangat menceritakan hal ihwal terkait dengan desa adat ini. Dia memperlihatkan beberapa rumah adat yang dianggap sakral seperti rumah pimpinan desa dan beberapa rumah tokoh adat. Konon untuk membuat rumah ini, bahan baku yang digunakan adalah tanah liat dan kotoran ternak. Namun anehnya, bau tanah di rumah-rumah itu justru tidak bau kotoran, namun bau harum, mungkin kotoran ternak yang digunakan sudah menjadi kompos sehingga menimbulkan bau yang lebih ramah di hidung! Kami diajak untuk melihat-lihat bengkel kerajinan kain tenun yang diawaki kaum perempuan desa adat. Di salah satu bengkel kami membeli beberapa helai kain tenun seraya bercakap-cakap dengan seorang wanita yang merupakan pemilik bengkel tersebut. “Wanita di desa adat Sade ini akan dihargai lebih tinggi bila dia bisa menenun, beda halnya dengan laki-laki, yang bisanya hanya berkebun,” katanya sambil melirik laki-laki yang memandu kami sembari terkekeh. Sang pemandupun mengiyakan kata-kata wanita itu. “Keunikan lain adalah adat perkawinan di sini pak,” kata si pemandu. “Kalau ada pemuda yang berniat memperistri salah satu gadis di sini, maka dia wajib menculik si gadis dan menyembunyikannya. Setelah beberapa waktu, maka para tetua dan orang tua kedua belah pihak baru membicarakan hari baik untuk perkawinan pasangan tersebut,” lanjutnya. Setelah puas berkeliling dan mencari oleh-oleh kain tenun Sade yang cantik, kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan resort Mandalika yang terletak kira-kira 12 km ke arah selatan desa adat Sade.

Sade, Desa Adat suku Sasak (dok. pribadi)

Sade, Desa Adat suku Sasak (dok. pribadi)

Setelah berjalan sekitar 20 menit dari Sade, kami tiba di kawasan resort Mandalika. Kawasan ini sedang digarap pemerintah propinsi NTB dan pemerintah pusat untuk menjadi primadona baru objek wisata di Lombok. Namun nampaknya ambisi pengembangan ini terkendala infrastruktur yang ada saat ini terbatas. Misalnya jalan raya, dimana akses jalan dari Bandara Internasional Lombok hanyalah jalan dua arah dengan satu lajur yang bisa dilalui hanya 1 kendaraan saja. Karena beban lalu lintas di Lombok yang tidak banyak, maka waktu tempuh tidak terlalu lama, tapi bila nanti kawasan ini berkembang menjadi salah satu objek wisata favorit, saya tidak bisa membayangkan kemacetan yang terjadi. Di kawasan ini, sudah ada berbagai fasilitas pariwisata seperti hotel, penyedian makanan, minuman dan kebutuhan sehari-hari wisatawan, travel agent dan lain-lain. Namun kawasan ini masih tidak seramai kawasan wisata yang sama di Bali, fasilitas yang ada saja masih terkesan seadanya. Satu-satunya hotel berbintang di kawasan ini adalah Novotel Mandalika Resort yang memiliki pantai yang cukup indah dan fasilitas lengkap. Padahal pantai di kawasan resort Mandalika ini cukup indah, selain itu pasirnya berwarna putih dan butirannya mirip dengan butiran merica. Saya menyempatkan diri untuk membungkus pasir tersebut ke botol air minum kosong dan membawanya kembali ke Jakarta.

Pantai Kuta, Lombok, tempat dimana tradisi Bau Nyale dilakukan (dok. pribadi)

Pantai Kuta, Lombok, tempat dimana tradisi Bau Nyale dilakukan (dok. pribadi)

Kawasan pesisir selatan Lombok ini terkenal akan tradisi Bau Nyale, atau berburu Nyale atau cacing laut. Tradisi ini merupakan tradisi masyarakat Sasak, khususnya di Kecamatan Pujut Lombok Tengah yang diselenggarakan setiap tanggal 20 pada bulan ke 10 berdasarkan penanggalan masyarakat Sasak, biasanya sekitar bulan Februari atau Maret. Tradisi ini sekarang telah dijadikan sebagai festival tahunan yang bisa dijadikan sebagai salah satu kegiatan yang menarik untuk dilihat.

Nyale atau cacing laut ini muncul di 16 titik di sepanjang pantai yang terdapat pantai selatan kabupaten Lombok Tengah. Namun, lokasi yang paling ramai didatangi oleh pengunjung adalah Pantai Kuta dan Pantai Seger yang letaknya memang berdekatan. Tradisi ini didasarkan pada legenda Putri Mandalika, seorang putri yang sangat cantik dan arif anak dari salah satu raja di Lombok. Kecantikan sang putri telah memikat banyak pangeran dan meminangnya untuk dijadikan pendamping hidup. Lain halnya dengan legenda putri raja cantik rupawan lain yang mengadakan sayembara atau lomba-lomba aneh bin mustahil, Putri Mandalika yang tidak ingin dirinya menjadi sebab pertumpahan darah karena persaingan perjodohan ini, memilih untuk menenggelamkan diri di laut dan berubah menjadi nyale yang konon dipercaya dapat menyuburkan tanah dan memberikan kemaslahatan bagi rakyat banyak.

Objek wisata di resort Mandalika sungguh menarik, pantai pasir putih dan konon terdapat juga pantai pasir pink di daerah ini. Sayang, karena waktu yang terbatas dan jalanan yang masih perlu diperbaiki menghambat kami melakukan eksplorasi menyeluruh di wilayah ini. Walau demikian, kesan pertama saya waktu sampai ke daerah ini adalah cinta pada pandangan pertama! Kami kembali ke kota Mataram sambil berandai-andai akan kembali lagi ke resort Mandalika.

Dalam perjalanan kembali ke kota, kami menyempatkan diri untuk mampir ke desa Sukarare, salah satu desa kerajinan yang menawarkan keunikan produk kain tenun. Letak desa ini tidak jauh dari Bandara Internasional Lombok, walaupun untuk mencapai workshop tenun kita harus masuk ke jalan-jalan desa. Di workshop ini kita disambut dengan deretan alat tenun manual yang  biasa dipakai ibu-ibu desa ini untuk membuat kain. Nampaknya, tidak hanya di desa adat Sade, hampir semua perempuan di Lombok diwajibkan untuk mengetahui cara bertenun. Salah satu penjaga workshop menyatakan bahwa selain workshop, ternyata tempat ini juga berfungsi sebagai pusat pengumpulan kain tenun di desa Sukarare. “Semua hasil tenun dikumpulkan dan dipasarkan di sini pak, selain itu, kami juga menyalurkan bahan-bahan baku dan bahan mentah ke pengrajin yang umumnya ibu-ibu. Dengan demikian, kita bisa mengontrol baik harga jual, maupun harga bahan,” lanjutnya. Setelah puas melihat dan membeli beberapa helai kain untuk oleh-oleh, kami bergerak kembali ke kota Mataram.

Kami masuk ke kota Mataram saat senja telah berangsur menjadi gelap, dan perutpun sudah berteriak-teriak untuk diisi. Sopir sekaligus pemandu kami menyarankan agar kami mencicipi salah satu kekayaan kuliner yang lain di kota Mataram selain ayam taliwang, yaitu sate Rembiga (dibaca rembige). Disebut demikian, karena sate ini dijual di kampung atau desa Rembiga, Mataram, di sisi timur Bandara Selaparang. Sate ini cukup terkenal di kota Mataram, hal ini terlihat dari banyaknya mobil dan motor yang parkir di sekitar penjual sate. Sebenarnya sate ini tidak jauh berbeda dengan sate lainnya, baik yang berbahan daging ayam, daging sapi atau daging kambing, yang membedakan adalah bumbu dan sambal sate. Citarasa khas Lombok yang cenderung manis dan pedas sangat terasa di sajian sate Rembiga ini. Daging sate disajikan dengan bumbu yang manis, namun sambalnya terasa pedas di lidah. Sate ini juga bisa dinikmati dengan nasi biasa atau lontong khas Lombok yang dibungkus daun pisang dan berbentuk kerucut, tidak seperti lontong di Jawa yang berbentuk tubular. Rasanya? Maknyuus kata pak Bondan. Setelah puas makan sate Rembiga, kami kembali ke hotel.

Sate khas Kampung Rembiga di sisi lain Bandara Selaparang (dok. pribadi)

Sate khas Kampung Rembiga di sisi lain Bandara Selaparang (dok. pribadi)

Keesokan hari, kami melakukan kunjungan ke berbagai instansi baik Pemerintah Propinsi NTB, Kantor Imigrasi, Bandara Internasional Lombok dan juga ke salah satu objek wisata yaitu desa Sekarbela yang terkenal akan kerajinan perhiasan emas dan mutiara. Desa ini terletak di sisi barat kota Mataram dan jalan utama desa dipenuhi dengan kios-kios yang menawarkan berbagai macam perhiasan emas, perak dan mutiara. Sore itu, kami kembali ke Jakarta dengan sejuta cerita tentang Mandalika, si Jelita di Nusa Tenggara Barat.

Secara umum, Lombok memiliki kelebihan berupa keindahan alam, keunikan budaya dan ragam produk kreatif sebagai modal pengembangan pariwisata. Namun demikian, tantangan yang dihadapi wilayah ini bersifat klasik dan umum di Indonesia yaitu keterbatasan  infrastruktur dan ketimpangan pembangunan. Beruntung pemerintah propinsi saat ini mencoba mendobrak tantangan ini dengan pembangunan berbagai infrastruktur dan pemerataan pembangunan dengan mengarahkan pembangunan infrastruktur dasar ke Lombok Tengah dan Timur. Selain itu, propinsi ini juga memiliki kaum muda pembaharu seperti jajaran dewan promosi pariwisata yang diisi orang-orang muda dan bersemangat. Mereka memainkan peran yang signifikan untuk memajukan Lombok serta bersinergi dengan dukungan pemerintah propinsi NTB. Melihat betapa bersemangatnya orang-orang muda ini membangun NTB, saya yakin propinsi ini akan menjadi mesin pendorong ekonomi baru di Kawasan Timur Indonesia.

Wallahu ‘alam bissawab.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s